Tradisi budaya – kembali menjadi daya tarik masyarakat di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah Wahyu Kliyu, sebuah upacara adat yang di selenggarakan setiap bulan Suro oleh masyarakat Desa Jatipuro, Kecamatan Jatipuro. Kegiatan ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan menjadi wujud rasa syukur, doa bersama. Sekaligus upaya melestarikan warisan budaya yang telah di wariskan secara turun-temurun.
Rangkaian acara di ikuti dengan antusias oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Salah satu momen yang paling menarik perhatian adalah kirab gunungan apem yang di arak menuju lapangan desa sebelum akhirnya di bagikan kepada warga. Tradisi tersebut tidak hanya menghadirkan suasana meriah, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong, kebersamaan, dan identitas budaya masyarakat setempat.
Kirab Gunungan Apem Menjadi Daya Tarik Utama
Pelaksanaan kirab budaya diawali dengan arak-arakan gunungan apem dari kediaman salah satu tokoh masyarakat menuju panggung utama di Lapangan Desa Jatipuro. Jarak sekitar 500 meter di tempuh oleh para peserta kirab sambil membawa berbagai hasil karya masyarakat yang telah di persiapkan sebelumnya.
Puluhan kelompok ambil bagian dalam prosesi tersebut. Setiap kelompok membawa gunungan yang disusun dari apem, lengkap dengan tenggok atau wadah bambu berisi makanan tradisional. Selain apem, terdapat pula gunungan berisi hasil pertanian, jajanan pasar, hingga sajian kuliner seperti bakso yang ikut memeriahkan arak-arakan.
Keberagaman isi gunungan mencerminkan hasil bumi sekaligus kekayaan budaya masyarakat Desa Jatipuro. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas rezeki yang diperoleh sepanjang tahun serta harapan agar kehidupan masyarakat senantiasa di beri keberkahan.
Warga Antusias Berebut Apem
Sesampainya di panggung utama, ribuan apem yang telah dikirab langsung di bagikan kepada masyarakat. Panitia membagikannya dengan cara melempar apem ke arah kerumunan warga sambil meneriakkan kalimat “Wahyu Kliyu”, yang menjadi ciri khas perayaan tersebut.
Meskipun cuaca siang hari cukup terik, semangat masyarakat untuk mengikuti tradisi tidak surut. Banyak warga rela berdesakan demi memperoleh apem yang di percaya membawa berkah. Bahkan, payung yang sebelumnya di gunakan sebagai pelindung dari panas matahari di ubah fungsinya menjadi alat untuk menangkap apem yang di lempar dari atas panggung.
Suasana penuh kegembiraan terlihat sepanjang prosesi berlangsung. Anak-anak, orang dewasa, hingga lansia ikut menikmati tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Jatipuro selama bertahun-tahun.
Salah seorang warga, Mulyati, mengaku sengaja membawa payung agar lebih mudah memperoleh apem. Baginya, kegiatan tersebut bukan hanya sekadar mencari makanan, tetapi juga menjadi hiburan yang mempererat hubungan antarsesama warga.
Menurutnya, tradisi kirab gunungan apem memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata budaya apabila terus di lestarikan dan di kembangkan secara berkelanjutan.

Warga berebut apem saat kirab budaya Wahyu Kliyu di Lapangan Desa Jatipuro Kecamatan Jatipuro Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah pada Rabu (1/7/2026) siang.
Tradisi Tahunan yang Sarat Makna Spiritual
Kepala Desa Jatipuro, Rakino, menjelaskan bahwa Tradisi Wahyu Kliyu telah di tetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tingkat nasional. Oleh karena itu, masyarakat memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungannya agar tetap di kenal oleh generasi berikutnya.
Tradisi ini di selenggarakan setiap tahun pada bulan Suro dalam penanggalan Jawa. Kirab gunungan apem hanyalah satu dari beberapa rangkaian kegiatan yang telah di persiapkan masyarakat.
Sebelum kirab berlangsung, desa lebih dahulu mengadakan Festival Karawitan yang melibatkan sekitar 20 kelompok seni. Setelah prosesi kirab selesai, perayaan di lanjutkan dengan pertunjukan wayang kulit dan berbagai kesenian tradisional lainnya yang menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal.
Pada kirab siang hari, jumlah apem yang di bagikan di perkirakan mencapai sekitar 4.000 buah. Apem tersebut berasal dari sumbangan berbagai RT, RW, serta kelompok masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam acara.
Puncak Acara Digelar Tengah Malam
Perayaan Wahyu Kliyu tidak berhenti pada kirab budaya. Puncak kegiatan di jadwalkan berlangsung tepat pada tengah malam atau pukul 00.00 waktu setempat.
Dalam prosesi utama tersebut, masyarakat akan kembali membawa apem dalam jumlah yang jauh lebih banyak di bandingkan saat kirab siang hari. Seluruh rangkaian ritual memiliki makna spiritual yang mendalam sebagai bentuk doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Melalui tradisi ini, masyarakat memohon keselamatan, kesehatan, kekuatan, serta perlindungan dari berbagai bencana maupun wabah penyakit. Nilai religius tersebut menjadi alasan mengapa Tradisi Wahyu Kliyu tetap di pertahankan meskipun zaman terus mengalami perubahan.
Pelestarian Budaya sebagai Identitas Daerah
Tradisi Wahyu Kliyu menunjukkan bahwa budaya lokal masih memiliki tempat yang kuat di tengah kehidupan masyarakat modern. Selain menjaga nilai-nilai leluhur, kegiatan ini juga menjadi ruang berkumpulnya masyarakat untuk mempererat persaudaraan dan meningkatkan kepedulian terhadap warisan budaya.
Apabila di kelola secara berkelanjutan, Tradisi Wahyu Kliyu berpotensi menjadi salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Karanganyar. Kehadiran wisatawan tidak hanya memperkenalkan budaya daerah kepada masyarakat luas. Tetapi juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian warga melalui sektor pariwisata, kuliner, dan ekonomi kreatif.
Dengan mempertahankan tradisi yang telah di wariskan selama bertahun-tahun, masyarakat Desa Jatipuro membuktikan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga masa lalu. Melainkan juga membangun identitas dan kekuatan sosial untuk masa depan.