Festival Muria Raya (FMR) – kembali menjadi ruang pertemuan bagi masyarakat desa, seniman lokal, dan pelaku seni dari berbagai negara. Memasuki penyelenggaraan keenam, festival ini membawa beragam bentuk kolaborasi budaya ke sejumlah desa di kawasan Gunung Muria sepanjang Agustus 2026.

Berbeda dari festival yang hanya berpusat pada satu lokasi, FMR #6 bergerak dari desa ke desa. Perjalanan tersebut menghadirkan pertunjukan musik, tari, residensi seniman, hingga eksperimen terhadap instrumen tradisional. Seniman dari Prancis dan Jepang turut berinteraksi langsung dengan masyarakat serta pelaku seni setempat.

Salah satu kolaborasi yang menarik perhatian muncul pada pembukaan festival di Desa Menawan, Kudus. Belasan musisi asal Prancis yang tergabung dalam Compagnie Kotekan tampil bersama Gayam 16 Yogyakarta. Mereka mengolah bunyi gamelan dan menggabungkannya dengan sejumlah instrumen tiup modern, seperti saxophone, trombone, dan terompet.

Gamelan Menjadi Jembatan Pertemuan Musisi Prancis dan Indonesia

Jean-Pierre “Pawak” Goudard, musisi sekaligus komponis dari Compagnie Kotekan, memimpin kolaborasi tersebut. Kedekatan Goudard dengan gamelan telah berlangsung selama lebih dari dua dekade.

Sekitar tahun 2000, ia mulai mempelajari gamelan ketika berada di Bali. Pengalaman itu kemudian mendorongnya membawa gamelan ke Prancis. Di sana, ia memperkenalkan musik tradisional Nusantara tersebut kepada rekan sesama musisi, sahabat, hingga murid-muridnya.

Presiden Compagnie Kotekan Sarah Andrieu menjelaskan bahwa gamelan memiliki karakter yang mampu membuka kesempatan kolaborasi bagi banyak orang. Instrumen tersebut tidak hanya berfungsi sebagai medium bermusik, tetapi juga menjadi sarana untuk menciptakan karya secara bersama-sama.

Pembukaan FMR #6 semakin beragam dengan keterlibatan komunitas Tari Caping Kalo dari Kudus. Selain itu, seniman Jepang Yuta Kuroki memperkenalkan Kijin Kagura, sebuah tari ritual yang berasal dari Shiiba, Miyazaki.

Yuta memiliki latar keluarga yang dekat dengan tradisi Kagura. Selama mengikuti program residensi, ia berinteraksi dan berkarya bersama seniman serta masyarakat di kawasan Muria. Proses tersebut membuat pertukaran budaya dalam festival tidak berhenti pada panggung pertunjukan.

Perjalanan Budaya Mengelilingi Kawasan Muria

Festival Muria Raya #6 berlangsung sepanjang 5-30 Agustus 2026. Seusai pembukaan di Desa Menawan, perjalanan budaya bergerak menuju Desa Japan pada 21 Agustus melalui agenda Tumapaking Cakra Manggilingan.

Rangkaian kemudian menuju Dukuh Dombyang di Desa Jepalo, Pati, pada 29-30 Agustus 2026. Pergerakan dari satu kawasan menuju kawasan lain menjadi penerapan konsep pradaksina, yakni perjalanan mengelilingi Gunung Muria.

Ketua Yayasan Festival Muria Raya Brian Trinanda K. Adi memaknai perjalanan tersebut sebagai simbol hubungan persaudaraan. Konsep “Tepuk Gelang” menggambarkan dua ujung yang akhirnya saling bertemu sehingga membentuk lingkaran.

Lingkaran itu menjadi gambaran hubungan manusia dengan sesama sekaligus keterikatannya dengan alam. Karena itu, perjalanan festival tidak hanya berorientasi pada pertunjukan, tetapi juga membawa nilai sosial dan spiritual.

Konsep perjalanan mengitari kawasan Muria sebenarnya telah menjadi bagian dari festival sejak penyelenggaraan pertamanya pada 2020. Melalui aktivitas budaya, penyelenggara berusaha membangun hubungan yang lebih erat di antara masyarakat yang hidup di wilayah Muria Raya.

Masyarakat Desa Terlibat dalam Proses Berkesenian

Interaksi antara seniman dan warga terlihat jelas ketika festival singgah di Desa Japan. Shafira Onky Parasmita, misalnya, berbagi pengetahuan mengenai tembang macapat kepada kalangan remaja di desa tersebut.

Shafira juga terlibat dalam proses musikal untuk kolaborasi Yuta Kuroki dengan anak-anak sekolah dasar. Dengan demikian, masyarakat tidak sekadar hadir sebagai penonton, melainkan ikut menjadi bagian dari proses penciptaan karya.

Seniman lokal Cucu Khabib Yahya turut memperkaya kegiatan melalui pertunjukan wayang kulit Bedhol Kayon dan Tari Bujang Ganong. Pertemuannya dengan seniman lain memberinya perspektif baru mengenai fungsi kesenian.

Menurutnya, seni mempunyai nilai yang jauh lebih luas daripada kepentingan ekonomi. Seni dapat menjadi media untuk belajar, membangun dialog, dan mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda.

Pengalaman serupa dirasakan pemuda Desa Japan, M. Choirul Anam. Keterlibatannya dalam rangkaian festival membuka pengetahuan baru mengenai pentingnya pengarsipan sejarah desa. Dari sana, ia juga terdorong untuk melihat kembali kondisi lingkungan sosial di sekitarnya.

Kolaborasi seniman internasional dan masyarakat desa dalam Festival Muria Raya 2026

Penampilan musik dengan gamelan dan biola yang dimainkan Compagnie Kotekan dalam rangkaian Festival Muria Raya #6

Limbah Kaca Diolah Menjadi Instrumen Gamelan

Eksplorasi kesenian dalam FMR #6 tidak hanya muncul melalui pertunjukan lintas negara. Festival ini kembali memperkenalkan Gatotkaca atau Gamelan Total Kaca sebagai bentuk eksperimen terhadap instrumen musik.

Pengembang karya memanfaatkan limbah kaca sebagai bahan utama pembuatan instrumen. Mereka melebur material tersebut menggunakan tungku khusus sebelum mengolahnya menjadi bagian dari perangkat musik.

Eksperimen organologi itu mempertemukan pengetahuan tentang gamelan dengan karakter material yang tidak umum digunakan dalam pembuatan instrumen tradisional. Hasilnya menunjukkan bahwa tradisi tetap dapat berkembang melalui riset dan eksplorasi baru tanpa kehilangan ruang dialog dengan pengetahuan sebelumnya.

FMR #6 juga memperluas jaringan kolaborasi melalui program Artists and Experts in Residence. Sejumlah nama yang terlibat antara lain Yuta Kuroki, Gempur Sentosa, Pepep D.W., Welda Sanavero, dan Jawara Squad.

Gelar Cakra Manggilingan Tutup Perjalanan Festival

Berbagai proses kreatif yang berlangsung selama festival kemudian bertemu dalam Gelar Cakra Manggilingan di Dukuh Dombyang, Desa Jepalo, pada 29-30 Agustus 2026.

Agenda tersebut menampilkan karya hasil program residensi, Bala-Bala Muria, serta berbagai kolaborasi seniman. Pada malam 29 Agustus, panggung festival menghadirkan seniman dan kelompok seni dari sejumlah wilayah Indonesia.

Kegiatan berlanjut pada 30 Agustus dengan keterlibatan Komunitas Mantra Gula Kelapa, Temu Cakap Desa, dan SVRNSA. Dengan rangkaian tersebut, penutupan festival tetap mempertahankan karakter perjumpaan yang menjadi salah satu gagasan utama penyelenggaraan.

Selain karya pertunjukan, perjalanan FMR juga membawa Prasastu. Batu tersebut mendapat pahatan menggunakan Aksara Waja dan menjadi penanda hubungan persaudaraan antara festival dengan masyarakat yang ditemui sepanjang perjalanan.

Festival Muria Raya Tumbuh Bersama Masyarakat

Tim Media Festival Muria Raya Maliyana Nur Rahma memandang FMR lebih luas daripada sebuah panggung hiburan. Festival tersebut berkembang menjadi gerakan kebudayaan yang menempatkan masyarakat desa sebagai bagian penting dalam prosesnya.

Setiap rangkaian kegiatan menjadi tempat bertemunya pengalaman, gagasan, tradisi, dan pengetahuan dari berbagai latar belakang. Karena itu, festival berupaya menjadikan kebudayaan bukan hanya sebagai peninggalan yang perlu dijaga, tetapi juga sumber pengetahuan untuk menghadapi masa depan.

Enam kali penyelenggaraan Festival Muria Raya memperlihatkan beragam kemungkinan dalam membangun pertemuan budaya. Musisi Prancis memainkan gamelan bersama seniman Indonesia, tradisi Kagura dari Jepang berinteraksi dengan masyarakat Muria, sementara limbah kaca mendapatkan fungsi baru sebagai material instrumen musik.

Melalui pendekatan tersebut, Festival Muria Raya menempatkan warga, seniman, lingkungan, dan pengetahuan lokal dalam satu ruang yang saling terhubung. Pertunjukan menjadi salah satu bagian dari festival, sedangkan proses belajar, dialog, eksperimen, dan hubungan antarmasyarakat menjadi fondasi yang terus dikembangkan dari satu penyelenggaraan menuju penyelenggaraan berikutnya.