Keputusan John Herdman untuk menerima tawaran melatih Timnas Indonesia menarik perhatian publik sepak bola. Pilihan tersebut di nilai tidak biasa. Pasalnya, Indonesia masih tertinggal secara peringkat internasional di bandingkan beberapa negara lain yang juga mengincarnya.
Meski demikian, Herdman menegaskan bahwa keputusannya tidak di ambil secara emosional. Ia melihat Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Fokusnya bukan pada kondisi saat ini, melainkan pada potensi jangka panjang yang bisa dikembangkan.
Dalam perkenalan resminya bersama PSSI, Herdman menyampaikan bahwa sepanjang kariernya, ia selalu tertarik pada proyek pembangunan. Baginya, sepak bola nasional bukan sekadar hasil pertandingan, tetapi proses yang berkelanjutan.
Visi Pembangunan Menjadi Faktor Utama
Pertama-tama, Herdman menilai bahwa Indonesia memiliki fondasi yang kuat. Infrastruktur sepak bola terus berkembang. Kompetisi domestik berjalan profesional. Selain itu, dukungan publik sangat besar.
Di sisi lain, ia juga melihat kesamaan antara Indonesia dan negara yang pernah ia tangani sebelumnya. Pengalamannya membangun Timnas Kanada menjadi referensi penting. Proses tersebut tidak instan, namun berujung pada hasil nyata.
Oleh karena itu, Herdman merasa tertantang. Ia ingin mengulangi proses serupa di lingkungan yang berbeda. Indonesia, menurutnya, memiliki energi besar untuk berkembang apabila di kelola dengan arah yang jelas. Lebih jauh, komunikasi dengan federasi menjadi faktor penentu. Herdman menilai adanya kesamaan visi. Hal ini membuatnya yakin bahwa proyek ini bukan sekadar jangka pendek.

John Herdman secara resmi di perkenalkan sebagai pelatih Timnas Indonesia pada Selasa (13/1/2026) di Hotel Mulia, Jakarta.
Peringkat FIFA Bukan Tolok Ukur Keputusan
Selanjutnya, Herdman menegaskan bahwa peringkat FIFA tidak memengaruhi keputusannya. Baginya, angka hanyalah cerminan sementara dari proses yang berjalan. Sebaliknya, ia lebih menilai kesiapan sebuah negara untuk berkembang. Indonesia di nilai sudah memiliki elemen penting. Mulai dari fasilitas, struktur liga, hingga sumber daya pemain muda.
Selain itu, Herdman melihat peluang jangka panjang menuju kompetisi tertinggi dunia, termasuk Piala Dunia 2026 dan edisi berikutnya. Meski Indonesia telah tersingkir, proses menuju masa depan tetap terbuka. Dengan demikian, fokus utama bukan pada hasil instan. Herdman lebih menekankan pembentukan sistem. Ia percaya bahwa konsistensi akan membawa perubahan nyata.
Menolak Tawaran Negara Lain Demi Indonesia
Sebelum resmi ke Indonesia, Herdman sempat di kaitkan dengan beberapa negara. Dua di antaranya adalah Honduras dan Jamaika. Honduras memiliki peringkat dunia yang lebih baik. Namun, negara tersebut gagal menembus Piala Dunia 2026. Sementara itu, Jamaika masih memiliki peluang melalui jalur play-off.
Bahkan, Herdman di kabarkan hampir menangani Jamaika di fase krusial tersebut. Namun pada akhirnya, tawaran itu di tolak. Keputusan ini menegaskan bahwa ia tidak mengejar peluang jangka pendek. Sebaliknya, ia memilih tantangan yang lebih besar. Indonesia menawarkan ruang untuk membangun dari dasar. Bagi Herdman, tantangan inilah yang justru menarik.
Harapan Baru untuk Sepak Bola Nasional
Pada akhirnya, kehadiran John Herdman membawa optimisme baru. Pendekatannya yang terstruktur di nilai cocok dengan kebutuhan sepak bola Indonesia saat ini. Lebih dari sekadar pelatih, Herdman di pandang sebagai arsitek pembangunan.
Ia di harapkan mampu membentuk identitas permainan yang jelas dan berkelanjutan. Dengan dukungan federasi dan publik, proses ini memiliki peluang besar untuk berhasil. Oleh sebab itu, pilihan Herdman menjadi sinyal positif bagi masa depan Timnas Indonesia.