Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjadi sorotan internasional. Setelah menyampaikan pernyataan kontroversial terkait kebijakan perdagangan dan geopolitik. Dalam sebuah acara yang membahas layanan kesehatan di Gedung Putih pada pertengahan Januari 2026. Trump menyampaikan kemungkinan penerapan tarif impor tambahan terhadap negara-negara yang di nilai tidak mendukung kepentingan Amerika Serikat atas Greenland. Pernyataan ini memperkuat citra pendekatan keras yang kerap digunakan Trump dalam kebijakan luar negeri.
Dalam pidatonya, Trump menyinggung keberhasilan kebijakan tarif sebelumnya yang menurutnya mampu memberikan tekanan kepada negara lain. Khususnya dalam konteks penurunan harga obat-obatan di pasar domestik Amerika Serikat. Dari isu kesehatan tersebut, Trump kemudian mengaitkannya dengan kepentingan strategis Amerika Serikat di kawasan Arktik, khususnya Greenland.
Trump menyatakan bahwa Greenland memiliki peran penting bagi keamanan nasional Amerika Serikat. Oleh karena itu, ia membuka kemungkinan penggunaan instrumen perdagangan berupa tarif impor sebagai alat tekanan politik terhadap negara-negara yang tidak sejalan dengan kebijakan Washington terkait wilayah tersebut. Pernyataan ini menunjukkan bagaimana isu keamanan, ekonomi, dan diplomasi saling terhubung dalam strategi global Amerika Serikat.
Greenland dalam Perspektif Keamanan Nasional Amerika Serikat
Greenland merupakan pulau terbesar di dunia dan memiliki posisi geografis yang sangat strategis di kawasan Arktik. Wilayah ini berada di jalur penting antara Amerika Utara dan Eropa, sehingga memiliki nilai signifikan dalam konteks pertahanan dan pengawasan militer. Amerika Serikat telah lama memiliki kehadiran militer di Greenland melalui Pangkalan Udara Thule, yang kini di kenal sebagai Pituffik Space Base.
Pangkalan ini berfungsi sebagai bagian dari sistem peringatan dini terhadap ancaman rudal balistik serta mendukung pertahanan luar angkasa Amerika Serikat. Keberadaan fasilitas tersebut memperlihatkan bahwa Greenland telah lama menjadi bagian dari perhitungan strategis Washington, jauh sebelum isu penguasaan wilayah ini kembali mencuat dalam wacana politik global.
Trump menekankan bahwa meningkatnya aktivitas negara-negara besar seperti Tiongkok dan Rusia di kawasan Arktik memperkuat urgensi Amerika Serikat untuk memastikan pengaruh dan kehadirannya di wilayah tersebut. Dalam konteks ini, Greenland di pandang sebagai aset strategis yang tidak dapat di abaikan.
Penolakan Denmark dan Sikap Pemimpin Eropa
Keinginan Amerika Serikat untuk menguasai Greenland tidak lepas dari penolakan keras, terutama dari Denmark yang secara administratif menaungi wilayah otonom tersebut. Pemerintah Denmark secara konsisten menegaskan bahwa Greenland bukanlah komoditas yang dapat di perjualbelikan. Masa depan Greenland, menurut Denmark, sepenuhnya berada di tangan masyarakat Greenland sendiri.
Sejumlah pemimpin Eropa juga menyuarakan keprihatinan atas pendekatan yang digunakan Trump. Mereka menilai bahwa penggunaan tekanan ekonomi, seperti ancaman tarif impor, berpotensi merusak hubungan diplomatik dan stabilitas kerja sama internasional. Penolakan ini memperlihatkan adanya perbedaan pandangan yang tajam antara Amerika Serikat dan sekutunya di Eropa terkait tata kelola wilayah strategis.

Presiden AS Donald Trump
Arktik, Perubahan Iklim, dan Persaingan Geopolitik
Selain aspek keamanan, kawasan Arktik semakin menjadi pusat perhatian global akibat dampak perubahan iklim. Mencairnya es di wilayah tersebut membuka peluang jalur pelayaran baru yang lebih efisien serta akses terhadap sumber daya alam yang sebelumnya sulit di jangkau. Greenland memiliki potensi besar dalam hal mineral tanah jarang, minyak, dan gas, yang bernilai tinggi bagi industri dan teknologi modern.
Kondisi ini mendorong meningkatnya persaingan geopolitik antara negara-negara besar. Amerika Serikat, Tiongkok, dan Rusia berlomba-lomba memperluas pengaruh mereka di kawasan Arktik, baik melalui kehadiran militer, investasi ekonomi, maupun diplomasi internasional. Dalam konteks ini, Greenland menjadi salah satu titik kunci dalam peta persaingan global.
Pendekatan Transaksional dalam Kebijakan Luar Negeri
Ancaman tarif impor yang di sampaikan Trump mencerminkan gaya kepemimpinan yang mengedepankan pendekatan transaksional. Perdagangan tidak hanya dipandang sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai alat untuk mencapai tujuan politik dan strategis. Dengan menggunakan tarif sebagai instrumen tekanan, Amerika Serikat berupaya memengaruhi sikap negara lain dalam isu-isu yang dianggap vital bagi kepentingan nasionalnya.
Pendekatan ini menimbulkan perdebatan di kalangan pengamat hubungan internasional. Sebagian menilai strategi tersebut efektif dalam jangka pendek, sementara pihak lain mengkhawatirkan dampaknya terhadap stabilitas perdagangan global dan hubungan diplomatik jangka panjang.