Banjir yang melanda wilayah Pantura Jawa Tengah berdampak signifikan terhadap operasional transportasi kereta api. Genangan air yang menutup jalur rel antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi menyebabkan terhambatnya perjalanan kereta api lintas utara Pulau Jawa. Kondisi ini memaksa PT Kereta Api Indonesia untuk mengambil langkah pembatalan sejumlah perjalanan demi menjamin keselamatan penumpang dan operasional.
Berdasarkan informasi resmi dari manajemen humas, genangan air sempat menutupi bagian rel dan berada di bawah kepala rel. Meskipun ketinggian air mulai berangsur surut, kondisi prasarana perkeretaapian di nilai belum sepenuhnya aman untuk di lalui dengan kecepatan normal. Oleh karena itu, sejumlah kereta api tetap di batalkan keberangkatannya sebagai langkah preventif.
Pembatalan Perjalanan Kereta Api sebagai Langkah Keselamatan
Manajemen operasional kereta api menempatkan aspek keselamatan sebagai prioritas utama. Beberapa kereta api jarak jauh dan menengah yang melintasi jalur Pantura Jawa Tengah terpaksa tidak di berangkatkan. Baik yang berangkat dari wilayah Daerah Operasi Semarang maupun yang hanya melintas di wilayah tersebut.
Kereta api yang terdampak meliputi layanan unggulan dan reguler, antara lain Argo Bromo Anggrek, Argo Merbabu, Argo Muria, Ciremai, Menoreh, Kamandaka, Tegal Bahari, Kaligung, Sembrani, Ambarawa Ekspres, hingga Tawangjaya Premium. Pembatalan ini tidak hanya berdampak pada satu atau dua perjalanan, tetapi mencakup total 23 perjalanan kereta api dalam satu hari operasional.
Upaya Normalisasi Jalur Rel oleh PT KAI
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, PT Kereta Api Indonesia melalui Daop 4 Semarang melakukan berbagai upaya percepatan normalisasi jalur. Tim teknis diterjunkan untuk memantau kondisi rel, ballast, serta sistem pendukung lainnya guna memastikan keamanan sebelum jalur kembali di operasikan secara penuh.
Dengan surutnya genangan banjir, jalur rel antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi mulai dapat di lewati dengan pembatasan kecepatan maksimal 10 kilometer per jam. Pembatasan ini di terapkan sebagai langkah antisipatif untuk mencegah risiko kecelakaan akibat kondisi prasarana yang belum sepenuhnya stabil.

Ilustrasi Foto : Petugas PT Kereta Api Indonesia melakukan pemeriksaan jalur rel yang tergenang banjir di wilayah Pantura Jawa Tengah.
Penyesuaian Pola Operasional Kereta Api
Meskipun jalur telah dapat di lalui secara terbatas, tidak seluruh perjalanan kereta api langsung di normalkan. Sejumlah perjalanan masih harus di sesuaikan pola operasionalnya hingga dilakukan evaluasi menyeluruh terhadap keamanan jalur. Penyesuaian ini mencakup perubahan jadwal, pengalihan rute, serta pembatalan sementara perjalanan tertentu.
Kebijakan tersebut menunjukkan pentingnya manajemen risiko dalam sistem transportasi publik, khususnya pada moda transportasi massal seperti kereta api. Faktor cuaca ekstrem dan bencana alam menjadi tantangan yang memerlukan kesiapan infrastruktur serta respons operasional yang cepat dan terkoordinasi.
Kebijakan Pengembalian Biaya Tiket Penumpang
Sebagai bentuk tanggung jawab kepada pengguna jasa, PT KAI memastikan pengembalian dana tiket secara penuh bagi penumpang yang terdampak pembatalan perjalanan. Kebijakan pengembalian 100 persen ini berlaku tanpa potongan dan dapat dilakukan melalui kanal resmi penjualan tiket.
Langkah tersebut di harapkan dapat meminimalkan kerugian yang di alami penumpang serta menjaga kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi kereta api nasional. Selain itu, manajemen juga menyampaikan permohonan maaf atas terganggunya rencana perjalanan penumpang akibat kondisi yang berada di luar kendali operasional.
Dampak Banjir terhadap Transportasi di Pantura Jawa Tengah
Terputusnya jalur kereta api Pantura Jawa Tengah sejak Minggu, 18 Januari 2026. Menegaskan bahwa banjir merupakan salah satu faktor eksternal yang memiliki dampak besar terhadap sistem transportasi darat. Jalur Pantura di kenal sebagai salah satu koridor utama pergerakan penumpang dan logistik, sehingga gangguan di jalur ini berimplikasi luas.
Kondisi ini menyoroti pentingnya penguatan infrastruktur perkeretaapian yang adaptif terhadap perubahan iklim dan potensi bencana hidrometeorologi. Evaluasi berkelanjutan terhadap sistem drainase, elevasi jalur, serta kesiapsiagaan operasional menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan layanan kereta api di masa mendatang.