Proses evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat jenis ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Akhirnya berhasil di lakukan oleh tim SAR gabungan. Jenazah korban berjenis kelamin laki-laki tersebut menjadi korban pertama yang berhasil di evakuasi dari lokasi kecelakaan yang memiliki medan ekstrem dan berbahaya.

Jenazah korban tiba di Posko Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sulsel yang berlokasi di Kota Makassar pada Rabu pagi (21/1/2026). Proses pengangkutan di lakukan menggunakan helikopter milik Basarnas. Dari wilayah Dusun Lampeso, Kabupaten Maros, yang berada di sekitar kawasan pegunungan Bulusaraung.

Proses Identifikasi oleh Tim DVI Biddokkes

Setibanya di posko DVI sekitar pukul 08.54 WITA, jenazah korban langsung di bawa menggunakan ambulans Rumah Sakit Angkatan Udara dr. Dody Sardjoto. Selanjutnya, jenazah di serahkan kepada tim dokter forensik DVI Biddokkes Polda Sulsel untuk menjalani proses identifikasi secara menyeluruh.

Tahapan identifikasi di lakukan melalui pemeriksaan post mortem yang mencakup analisis kondisi fisik serta pengambilan sampel DNA. Sampel tersebut nantinya akan di cocokkan dengan data keluarga inti korban guna memastikan identitas secara akurat dan ilmiah. Prosedur ini merupakan standar internasional dalam penanganan korban kecelakaan transportasi udara.

Kendala Medan dan Cuaca Ekstrem

Korban pertama ini sebelumnya di temukan oleh tim SAR gabungan pada Minggu (18/1) sekitar pukul 14.20 WITA. Lokasi penemuan berada di lereng jurang Gunung Bulusaraung dengan kedalaman mencapai sekitar 200 meter. Medan terjal dan kondisi geografis yang ekstrem menjadikan proses evakuasi berlangsung cukup lama dan penuh tantangan.

Sejak pertama kali di temukan, jenazah harus di evakuasi secara manual melalui jalur darat. Tim SAR membawa jenazah dari dasar jurang menuju puncak gunung, lalu kembali menurunkannya dengan berjalan kaki sebelum akhirnya dapat di jangkau oleh helikopter. Proses tersebut memakan waktu hingga tiga hari dan sempat terhambat oleh cuaca buruk yang melanda kawasan pegunungan.

Evakuasi jenazah korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 oleh Tim SAR dan Tim DVI di kawasan Gunung Bulusaraung, Sulawesi Selatan

Ilustrasi : Evakuasi korban kecelakaan pesawat ATR

Cuaca Mendukung Evakuasi Udara

Kepala Seksi Operasi dan Siaga Kantor Basarnas Makassar selaku On Scene Coordinator (OSC), Andi Sultan, menjelaskan bahwa kondisi cuaca pada hari evakuasi di nilai cukup kondusif. Hal ini memungkinkan penggunaan helikopter Basarnas jenis Dauphin HR-3601 untuk mengangkat jenazah dari area Lampeso.

Pengangkatan dilakukan menggunakan metode hoist dengan teknik air landed sekitar pukul 07.59 WITA. Helikopter kemudian berhasil mendarat kembali di Lanud Hasanuddin pada pukul 08.18 WITA sebelum jenazah di bawa menuju rumah sakit rujukan untuk proses lanjutan.

Menurut Andi Sultan, seluruh rangkaian evakuasi berjalan dengan aman dan lancar berkat koordinasi yang solid antar-unsur SAR serta dukungan cuaca yang relatif stabil.

Operasi Pencarian Korban Lain Masih Berlanjut

Meski satu korban telah berhasil di evakuasi, operasi pencarian belum di hentikan. Tim SAR gabungan yang terdiri dari puluhan personel masih terus melakukan penyisiran di sejumlah titik potensial. Beberapa Search and Rescue Unit (SRU) di kerahkan dengan tugas berbeda, mulai dari penyisiran lokasi ekor pesawat, area patahan air terjun, hingga jalur vertikal menuju puncak gunung.

Hingga saat ini, tercatat masih ada delapan korban lain yang belum di temukan. Upaya pencarian terus dilakukan dengan mempertimbangkan faktor keselamatan personel dan kondisi alam di sekitar lokasi kejadian.

Kronologi Hilangnya Pesawat ATR 42-500

Pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport di laporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1/2026) saat berada di wilayah perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene dan Kepulauan. Pesawat tersebut di jadwalkan mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin.

Di dalam pesawat terdapat 10 orang, terdiri dari tujuh kru pesawat dan tiga penumpang. Ketiga penumpang di ketahui merupakan pegawai dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang menjalankan tugas kedinasan.