Event Nusantara – Provinsi Jawa Timur kembali menunjukkan konsistensinya dalam pengembangan pariwisata berbasis budaya. Pada tahun 2026, provinsi ini berhasil meloloskan sebelas agenda budaya ke dalam program Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Program tersebut merupakan hasil kurasi nasional yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.
Capaian ini sekaligus menempatkan Jawa Timur sebagai provinsi dengan jumlah event terbanyak dalam kalender nasional selama empat tahun berturut-turut. Oleh karena itu, prestasi ini tidak hanya mencerminkan kekayaan budaya daerah, tetapi juga menunjukkan pengelolaan event yang berkelanjutan. Selain itu, keberhasilan ini memperkuat posisi Jawa Timur sebagai destinasi wisata unggulan berbasis tradisi dan kreativitas lokal.
Dari sebelas agenda yang terpilih, dua event masuk kategori Top KEN. Kategori ini menilai kualitas penyelenggaraan, dampak ekonomi, serta daya tarik wisata. Dengan demikian, Jawa Timur tidak hanya unggul secara kuantitas, tetapi juga kualitas.
Ragam Event Budaya sebagai Representasi Identitas Daerah
Sebelas event yang masuk KEN 2026 menghadirkan ragam ekspresi budaya dari berbagai wilayah Jawa Timur. Setiap daerah menampilkan karakter budaya yang berbeda. Oleh sebab itu, keseluruhan agenda tersebut membentuk narasi pariwisata yang beragam dan inklusif.
Kota Surabaya berkontribusi melalui Festival Rujak Uleg dan Surabaya Vaganza. Festival Rujak Uleg menjadi simbol pelestarian kuliner tradisional sekaligus perayaan hari jadi kota. Selain melibatkan ribuan peserta, kegiatan ini juga memperkuat nilai kebersamaan masyarakat. Sementara itu, Surabaya Vaganza menampilkan parade bunga dan budaya yang melibatkan komunitas seni dari berbagai latar belakang etnis.
Selanjutnya, Kabupaten Ponorogo kembali mengangkat identitas daerah melalui Festival Nasional Reog Ponorogo. Festival ini masuk kategori Top KEN karena konsistensi pelestarian seni reog. Selama sepuluh hari, puluhan grup reog tampil dan menunjukkan kemampuan teknis serta kekuatan spiritual. Dengan demikian, festival ini menjadi ruang ekspresi budaya sekaligus daya tarik wisata utama.
Kabupaten Lumajang menghadirkan Segero Topeng Kaliwungu sebagai bentuk penguatan seni topeng lokal. Tidak hanya menampilkan pertunjukan tari, event ini juga memperkenalkan potensi wisata alam sekitar. Oleh karena itu, seni pertunjukan dan pariwisata alam saling melengkapi dalam satu agenda.

Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP).
Inovasi Seni Tradisional dalam Kemasan Festival Modern
Di sisi lain, Kabupaten Pacitan mengemas kesenian ronthek melalui Festival Ronthek. Awalnya, ronthek berfungsi sebagai alat tradisional untuk membangunkan sahur. Namun kini, penyelenggara mengemasnya dalam pawai malam dengan tata cahaya modern. Akibatnya, kesenian ini tampil lebih atraktif tanpa kehilangan nilai tradisinya.
Kabupaten Banyuwangi kembali menunjukkan kekuatan kreativitas budaya melalui Banyuwangi Ethno Carnival. Event ini memadukan konsep karnaval modern dengan nilai budaya suku Osing. Setiap tahun, penyelenggara mengangkat tema berbeda. Oleh karena itu, festival ini selalu menawarkan pengalaman visual yang segar bagi wisatawan.
Jember Fashion Carnaval juga masuk kategori Top KEN 2026. Selain dikenal di tingkat nasional, event ini telah memperoleh pengakuan internasional. Ribuan peserta merancang kostum secara mandiri sesuai tema global. Dengan demikian, JFC tidak hanya menjadi ajang seni, tetapi juga sarana promosi kreatif daerah.
Event Budaya sebagai Penggerak Pariwisata dan Ekonomi Lokal
Sementara itu, Kota Malang menghadirkan Tong-Tong Night Market dengan konsep pasar malam bernuansa nostalgia. Pengunjung dapat menikmati kuliner legendaris, produk kreatif, dan hiburan musik. Oleh sebab itu, event ini menekankan kenyamanan ruang publik dan pelestarian memori kota.
Kabupaten Trenggalek menggelar Festival Jaranan Trenggalek Terbuka. Festival ini mempertemukan kelompok jaranan dari berbagai daerah. Selain menampilkan kreativitas gerak dan kostum, peserta juga tetap menjaga unsur spiritual. Dengan demikian, kesenian rakyat tetap relevan di tengah perkembangan zaman.
Kabupaten Sumenep mengangkat Musik Tong-Tong khas Madura melalui Festival Musik Tong-Tong. Para pemusik tampil di atas kereta kencana berhias lampu warna-warni. Akibatnya, suasana pesta rakyat tercipta dengan kuat dan meriah.
Terakhir, Gandrung Sewu di Banyuwangi menampilkan ribuan penari Gandrung secara serempak. Pertunjukan ini berlangsung dengan latar Selat Bali saat matahari terbenam. Oleh karena itu, Gandrung Sewu tidak hanya menyajikan tarian, tetapi juga narasi sejarah dan identitas budaya Banyuwangi dalam format kolosal yang ikonik.