Atlet Disabilitas Indonesia – Prestasi membanggakan kembali di torehkan oleh atlet Indonesia di kancah internasional. Kali ini datang dari cabang olahraga tenis meja dalam ajang ASEAN Para Games 2025 yang di gelar di Kota Korat Nakhon Ratchasima, Thailand, pada 20 hingga 26 Januari 2026. Seorang pemuda asal Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Provinsi Maluku, berhasil mengukir prestasi gemilang dengan meraih posisi runner-up setelah bertanding di partai final melawan tuan rumah Thailand.

Atlet tersebut adalah Barce Eynstend Layaba, yang di kenal dengan panggilan Aces. Keberhasilannya menjadi sorotan karena tidak hanya mengharumkan nama Indonesia, tetapi juga membawa kebanggaan bagi daerah asalnya di Maluku. Dengan penuh rasa syukur, ia mengungkapkan bahwa pencapaiannya merupakan hasil dari kerja keras dan latihan panjang yang di jalani di tengah berbagai keterbatasan.

Perjalanan Panjang Penuh Pengorbanan

Kesuksesan yang di raih Aces tidak datang secara instan. Ia harus melewati berbagai tantangan dan pengorbanan besar demi mencapai titik tersebut. Salah satu keputusan penting yang di ambil adalah meninggalkan usaha kuliner khas Maluku yang ia rintis di Kota Solo, Jawa Tengah. Usaha bernama Warung Wetan tersebut terpaksa di tutup sementara karena ia harus fokus menjalani program pelatihan intensif.

Sebagai alumni Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri (STAKPEN) Ambon dan lulusan magister Musik Gerejawi dari Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Aces memiliki latar belakang yang tidak biasa bagi seorang atlet. Namun, dedikasinya terhadap olahraga membuatnya rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan sumber pendapatan.

Selama kurang lebih lima bulan, ia menjalani pelatihan bersama atlet-atlet terbaik dari berbagai provinsi di Indonesia. Program tersebut berada di bawah pembinaan National Paralympic Committee (NPC). Selain mengikuti latihan resmi, Aces juga melakukan latihan mandiri untuk meningkatkan kemampuannya agar dapat bersaing di tingkat internasional.

Tantangan Finansial dan Tekad Menuju Olimpiade

Di balik prestasinya, Aces juga menghadapi kendala finansial yang tidak ringan. Untuk mengikuti turnamen internasional seperti ITTF World Para Challenger di Giza, Mesir pada November 2025, ia harus menggunakan dana pribadi. Keikutsertaannya dalam ajang tersebut bertujuan untuk mengumpulkan poin menuju kualifikasi Olimpiade 2028.

Bagi atlet dari daerah, keterbatasan dukungan finansial sering menjadi hambatan utama. Namun, Aces menyiasatinya dengan memanfaatkan tabungan hasil kemenangan dari berbagai kompetisi sebelumnya. Ia menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berprestasi.

Sebelumnya, ia juga berhasil meraih medali emas pada nomor ganda campuran kelas XD10 di ajang Asian Para Table Tennis Championship 2025 di Beijing. Prestasi tersebut semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu atlet potensial Indonesia di level internasional.

Atlet Disabilitas Indonesia

Barce Eynstend Layaba, atlet tenis meja disabilitas asal Maluku torehkan prestasi membanggakan mengharumkan nama Indonesia pada ajang ASEAN Para Games 2025.

Kunci Sukses: Konsistensi dan Adaptasi

Dalam perjalanan kariernya, Aces menekankan pentingnya konsistensi dan fokus dalam latihan. Ia percaya bahwa kualitas seorang atlet di tentukan oleh kedisiplinan dalam berlatih serta kemampuan beradaptasi dengan berbagai gaya permainan.

Di kenal memiliki gaya bermain bertahan yang kuat, Aces mampu mengimbangi permainan agresif dari pasangan maupun lawannya. Hal ini terbukti saat ia berpasangan dengan atlet asal Riau, Leli Marlina, di ajang internasional. Kombinasi strategi bertahan dan menyerang yang mereka tampilkan berhasil menumbangkan dominasi atlet dari China.

Keterbatasan Bukan Penghalang

Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Aces tetap optimistis dalam menatap masa depan. Ia saat ini tengah mempersiapkan diri untuk mengikuti Asian Para Games 2026 di Nagoya, Jepang. Ia mengakui bahwa kondisi dukungan di setiap daerah berbeda, bahkan terkadang menimbulkan rasa iri terhadap atlet dari provinsi lain yang mendapatkan fasilitas lebih baik.

Namun demikian, ia tetap berpegang pada prinsip bahwa keterbatasan bukanlah tembok penghalang. Menurutnya, yang terpenting adalah bagaimana seseorang mampu menemukan cara untuk melampaui segala kendala tersebut.

Kiprah di Dunia Seni dan Inspirasi bagi Generasi Muda

Selain berprestasi di dunia olahraga, Aces juga aktif di bidang seni. Ia di kenal sebagai pemain biola dan pernah terlibat dalam produksi video klip lagu berjudul “Para Juara” yang di bawakan oleh Charly van Houten. Keterlibatannya dalam proyek tersebut menjadi bukti bahwa ia mampu menyeimbangkan antara dunia olahraga dan seni.

Bakat seni yang di milikinya tidak terlepas dari pengaruh sang ayah, Albert Layaba, yang di kenal sebagai pencipta mars dan desainer logo Kabupaten Aru. Dengan latar belakang tersebut, Aces tumbuh sebagai sosok yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga inspiratif.

Keberhasilan Aces di harapkan dapat menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya atlet disabilitas di Indonesia, untuk terus berjuang meraih mimpi. Ia membuktikan bahwa dengan kerja keras, konsistensi, dan semangat pantang menyerah, keterbatasan bukanlah penghalang untuk mencapai prestasi di tingkat dunia.