Dominasi Spanyol di Final Piala Dunia 2026 menjadi sorotan utama setelah La Roja menaklukkan Argentina pada partai puncak Piala Dunia 2026. Kemenangan tersebut tidak hanya memastikan Spanyol mengangkat trofi juara dunia, tetapi juga mengakhiri status Argentina sebagai juara bertahan. Sepanjang pertandingan, tim besutan Luis de la Fuente tampil lebih tenang, efektif, dan mampu mengendalikan permainan. Sebaliknya, Argentina kesulitan mengembangkan permainan hingga menuai kritik dari berbagai pengamat sepak bola internasional.
Banyak pihak menilai Spanyol menunjukkan kualitas sebagai tim terbaik di turnamen. Mereka mampu menguasai jalannya pertandingan melalui penguasaan bola, distribusi operan yang akurat, serta serangan yang terus menekan pertahanan lawan. Di sisi lain, Argentina lebih sering menghentikan aliran permainan dengan pelanggaran sehingga gagal membangun ritme menyerang secara konsisten.
Spanyol Tampil Dominan Sejak Menit Awal
Mantan kapten Timnas Inggris, Alan Shearer, memberikan apresiasi tinggi terhadap performa Spanyol. Menurutnya, La Roja memang layak keluar sebagai juara karena mengendalikan pertandingan dari awal hingga akhir.
Dalam komentarnya kepada BBC One, Shearer menegaskan bahwa Spanyol menjadi satu-satunya tim yang benar-benar berusaha memainkan sepak bola menyerang. Mereka terus menciptakan peluang, mengalirkan bola dengan baik, dan mencari celah untuk membongkar pertahanan Argentina.
Ia juga menyebut keberhasilan Spanyol sebagai kemenangan bagi sepak bola. Menurut Shearer, pendekatan menyerang yang diperlihatkan La Roja membuktikan bahwa kualitas permainan tetap menjadi faktor utama dalam meraih gelar juara dunia.
Penampilan kolektif Spanyol memang terlihat sangat solid. Para pemain mampu menjaga intensitas permainan, menguasai lini tengah, serta meminimalkan kesalahan sepanjang pertandingan. Kombinasi tersebut membuat Argentina kesulitan menemukan ruang untuk mengembangkan serangan.
Statistik Membuktikan Keunggulan La Roja
Data pertandingan semakin memperkuat dominasi Spanyol di final. La Roja menguasai bola hingga 65 persen dan mencatatkan 852 operan sepanjang laga. Selain itu, mereka melepaskan 20 tembakan, dengan 11 di antaranya tepat mengarah ke gawang lawan.
Sebaliknya, Argentina hanya membukukan 464 operan. Mereka bahkan gagal menghasilkan satu tembakan selama waktu normal berlangsung. Upaya pertama Albiceleste baru muncul pada menit ke-117 melalui Lionel Messi.
Perbedaan statistik tersebut memperlihatkan jarak performa kedua tim di lapangan. Spanyol terus mengambil inisiatif menyerang dan memaksa Argentina bertahan dalam waktu yang cukup lama. Akibatnya, Argentina lebih sering kehilangan penguasaan bola dan tidak mampu menciptakan peluang berbahaya.
Keunggulan penguasaan bola juga membuat Spanyol lebih leluasa mengontrol tempo pertandingan. Mereka mampu memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lain dengan cepat sehingga pertahanan Argentina terus bekerja keras sepanjang laga.

Pesepak bola Tim Nasional Spanyol Rodri (depan tengah) mengangkat trofi juara Piala Dunia 2026 bersama rekannya di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026) waktu setempat.
Permainan Keras Argentina Jadi Sorotan
Selain kalah dalam penguasaan permainan, Argentina juga mendapat kritik karena pendekatan fisik yang mereka tampilkan selama pertandingan. Leandro Paredes beberapa kali menghentikan serangan Spanyol melalui duel keras, sementara Enzo Fernandez bermain agresif hingga menerima kartu kuning kedua akibat tekel terlambat terhadap Pau Cubarsi pada penghujung laga.
Empat pemain Argentina menerima kartu kuning dalam pertandingan tersebut. Namun, sejumlah pengamat menilai hukuman itu masih belum sebanding dengan intensitas pelanggaran yang terjadi sepanjang laga.
Situasi semakin memanas setelah wasit meniup peluit panjang. Paredes terlibat adu mulut dengan Rodri, Gavi, dan Borja Iglesias. Di saat yang sama, Nahuel Molina terlihat melayangkan pukulan ke arah salah satu pemain Spanyol yang melintas. Insiden tersebut langsung memicu reaksi keras dari sejumlah mantan pemain sepak bola.
Legenda Manchester United, Wayne Rooney, mengecam tindakan para pemain Argentina setelah pertandingan selesai. Menurutnya, perilaku tersebut sangat memalukan karena terjadi sesaat setelah penobatan juara dunia.
Rooney juga memberikan kritik khusus kepada Leandro Paredes. Ia menilai gelandang Argentina tersebut seharusnya mampu mengendalikan emosinya dan tidak terus memancing konflik di lapangan.
Pendapat serupa datang dari mantan kiper Timnas Inggris, Joe Hart. Ia menilai Argentina tidak memiliki alasan untuk memprotes hasil pertandingan ataupun melampiaskan emosi setelah laga usai. Hart bahkan menyebut perilaku para pemain Albiceleste sebagai tindakan yang tidak pantas diperlihatkan dalam sebuah final Piala Dunia.
Scaloni Akui Keunggulan Spanyol
Di tengah berbagai kritik terhadap timnya, pelatih Lionel Scaloni tetap menunjukkan sikap sportif. Meski sempat menyinggung kartu merah Enzo Fernandez sebagai salah satu faktor yang memengaruhi jalannya pertandingan, ia mengakui bahwa Spanyol memang tampil lebih baik.
Dalam konferensi pers usai laga, Scaloni menyatakan bahwa Spanyol pantas meraih kemenangan. Pengakuan tersebut sekaligus menegaskan bahwa dominasi La Roja sepanjang pertandingan memang sulit dibantah.
Kesuksesan Spanyol di final Piala Dunia 2026 menjadi bukti bahwa permainan kolektif, penguasaan bola, dan efektivitas dalam menciptakan peluang mampu membawa sebuah tim mencapai puncak dunia. Sementara itu, Argentina harus melakukan evaluasi menyeluruh agar dapat kembali bersaing pada turnamen internasional berikutnya setelah gagal mempertahankan gelar juara dunia.