Kondisi Genangan Air – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah DKI Jakarta sejak akhir Januari 2026 berdampak langsung pada munculnya genangan air di berbagai kawasan. Kondisi ini terjadi hampir merata di beberapa wilayah administrasi, baik di kawasan permukiman maupun pada ruas jalan utama. Hingga Jumat pagi, 30 Januari 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat puluhan rukun tetangga masih terendam air dengan ketinggian yang bervariasi.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa hujan berkepanjangan masih menjadi tantangan serius bagi pengelolaan lingkungan perkotaan Jakarta. Selain mengganggu aktivitas masyarakat, genangan air juga berpotensi meningkatkan risiko kesehatan dan keselamatan warga. Oleh karena itu, penanganan cepat dan terkoordinasi menjadi kebutuhan utama dalam kondisi darurat hidrometeorologi.

Faktor Pemicu Terjadinya Genangan di Wilayah Perkotaan

Pada dasarnya, genangan air yang terjadi dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi dalam waktu relatif lama. Akibatnya, volume air di sungai dan saluran drainase meningkat secara signifikan. Dalam kondisi tertentu, kapasitas sungai tidak mampu menampung debit air sehingga terjadi luapan ke wilayah sekitar.

Selain curah hujan, luapan sungai utama turut memperburuk keadaan. Kali Ciliwung, Kali Mookervaart, dan Kali Nagrak menjadi beberapa sumber luapan yang memengaruhi wilayah Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara. Dengan demikian, wilayah yang berada di sekitar bantaran sungai menjadi area paling rentan terdampak genangan.

Di sisi lain, kondisi topografi Jakarta yang relatif datar memperlambat aliran air menuju laut. Hal ini menyebabkan genangan bertahan lebih lama, terutama di kawasan dengan sistem drainase terbatas.

Sebaran Genangan Air di Berbagai Wilayah Jakarta

Di Jakarta Barat, genangan tercatat terjadi di sejumlah RT yang tersebar di beberapa kelurahan. Ketinggian air di wilayah ini tergolong rendah hingga sedang. Meskipun demikian, aktivitas warga tetap terganggu, khususnya pada akses jalan lingkungan.

Sementara itu, Jakarta Selatan mengalami genangan dengan ketinggian yang lebih ekstrem. Beberapa wilayah mencatat air mencapai ratusan sentimeter. Kondisi ini dipengaruhi oleh luapan Kali Ciliwung yang menerima debit air besar dari wilayah hulu. Akibatnya, kawasan permukiman di dataran rendah terdampak cukup serius.

Berbeda dengan Jakarta Selatan, Jakarta Timur mencatat jumlah RT terdampak paling banyak. Genangan tersebar di sejumlah kelurahan yang berada di sepanjang aliran sungai. Ketinggian air bervariasi, mulai dari puluhan hingga ratusan sentimeter. Oleh karena itu, pemantauan intensif menjadi prioritas utama di wilayah ini.

Adapun Jakarta Utara mengalami genangan dengan ketinggian relatif lebih rendah. Meskipun demikian, dampak tetap di rasakan oleh masyarakat. Luapan Kali Nagrak menjadi faktor utama yang memicu genangan di wilayah pesisir tersebut.

Genangan air merendam permukiman warga di Jakarta akibat hujan lebat

Banjir Jakarta masih menyisakan dampak signifikan, puluhan warga di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat terpaksa mengungsi.

Dampak Genangan terhadap Infrastruktur Jalan

Selain permukiman, genangan air juga memengaruhi infrastruktur jalan. Beberapa ruas jalan tergenang air sehingga menghambat mobilitas masyarakat. Pada kondisi tertentu, kendaraan roda dua dan roda empat kesulitan melintas akibat ketinggian air.

Lebih lanjut, genangan di jalan berpotensi menimbulkan risiko keselamatan. Pengendara dapat mengalami kecelakaan akibat jalan licin atau lubang yang tertutup air. Oleh sebab itu, kewaspadaan pengguna jalan menjadi hal yang sangat penting selama kondisi genangan masih berlangsung.

Langkah Penanganan dan Kesiapsiagaan Pemerintah Daerah

Sebagai respons atas kondisi tersebut, BPBD DKI Jakarta melakukan berbagai langkah penanganan. Personel di kerahkan untuk memantau genangan secara langsung di lapangan. Selain itu, koordinasi dilakukan dengan dinas terkait untuk melakukan penyedotan air dan memastikan saluran air berfungsi optimal.

Di samping penanganan teknis, pemerintah daerah juga menyiapkan kebutuhan dasar bagi warga terdampak. Langkah ini dilakukan melalui kerja sama dengan aparatur wilayah setempat. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat tetap dapat terpenuhi selama masa genangan.

Sebagai upaya pencegahan risiko lebih lanjut, masyarakat di imbau untuk tetap waspada terhadap potensi genangan susulan. Layanan darurat juga di siagakan selama 24 jam guna merespons kondisi darurat secara cepat dan tepat.