Perpanjangan Operasi Pencarian – Kasus hilangnya pendaki di kawasan pegunungan masih menjadi persoalan serius dalam aktivitas wisata alam di Indonesia. Salah satu peristiwa yang menyita perhatian publik adalah hilangnya seorang pendaki bernama Yazid Ahmad Firdaus (26) di kawasan Bukit Mongkrang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Pendaki yang berasal dari Desa Gawanan, Kecamatan Colomadu tersebut di laporkan tidak kembali dari aktivitas pendakian, sehingga memicu di lakukannya operasi pencarian dan pertolongan oleh berbagai pihak terkait.

Bukit Mongkrang sendiri merupakan salah satu destinasi pendakian yang cukup populer, namun memiliki karakteristik medan yang menantang serta kondisi cuaca yang kerap berubah secara ekstrem. Faktor-faktor tersebut menjadikan kawasan ini berisiko tinggi apabila tidak diantisipasi dengan perencanaan dan kesiapan yang matang.

Upaya Pencarian oleh Tim SAR Gabungan

Sejak laporan hilangnya korban di terima, Tim SAR Gabungan yang terdiri dari Basarnas, relawan, serta unsur terkait lainnya segera melakukan operasi pencarian. Pada tahap awal, pencarian di rencanakan berlangsung selama tujuh hari, terhitung sejak 19 hingga 25 Januari 2026. Namun, hingga batas waktu tersebut, korban belum berhasil di temukan.

Melihat kondisi di lapangan dan mempertimbangkan berbagai hambatan, pencarian kemudian di perpanjang selama tiga hari hingga 28 Januari 2026. Meski demikian, hasil pencarian masih belum menunjukkan titik terang. Oleh karena itu, Tim SAR Gabungan kembali menyepakati perpanjangan operasi pencarian selama tiga hari berikutnya, yang di jadwalkan berakhir pada 31 Januari 2026.

Keputusan ini di ambil sebagai bentuk komitmen kemanusiaan dan tanggung jawab dalam upaya menemukan korban secepat mungkin. Perpanjangan pencarian juga dilakukan dengan evaluasi strategi serta penyesuaian metode pencarian agar lebih efektif.

Tantangan Cuaca dan Kondisi Medan

Salah satu kendala utama dalam operasi pencarian adalah kondisi cuaca ekstrem di kawasan Bukit Mongkrang. Hujan dengan intensitas tinggi, hembusan angin kencang, serta kabut tebal secara signifikan menghambat mobilitas tim di lapangan. Situasi ini tidak hanya memperlambat proses penyisiran, tetapi juga meningkatkan risiko keselamatan bagi personel SAR.

Kondisi geografis berupa jalur pendakian yang curam dan vegetasi lebat turut menyulitkan upaya pencarian. Tim SAR harus melakukan penyisiran secara bertahap dan hati-hati, dengan mempertimbangkan faktor keselamatan sebagai prioritas utama.

Pencarian pendaki hilang di Bukit Mongkrang Karanganyar oleh Tim SAR gabungan

Tim SAR gabungan saat melakukan evaluasi pencarian Yazid di Bukit Mongkrang,

Indikasi Lapangan dalam Proses Pencarian

Dalam pelaksanaan pencarian, tim sempat menemukan indikasi berupa bau anyir di sekitar Pos 3 jalur pendakian. Temuan ini menjadi salah satu petunjuk awal yang kemudian di tindaklanjuti dengan penyisiran intensif di area sekitar. Namun, bau tersebut tidak bertahan lama karena faktor angin dan hujan yang cukup kuat, sehingga arah sumber bau sulit di pastikan.

Meskipun demikian, indikasi tersebut tetap menjadi bahan pertimbangan dalam perencanaan strategi pencarian lanjutan. Tim SAR melakukan koordinasi internal untuk menentukan metode pencarian yang lebih tepat, termasuk penyesuaian waktu dan pola penyisiran.

Dukungan Pemerintah Provinsi dalam Operasi Pencarian

Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan kesiapan untuk memberikan dukungan penuh terhadap operasi pencarian. Dukungan tersebut mencakup penyediaan logistik, pemanfaatan teknologi pendukung, serta penambahan personel apabila di perlukan.

Langkah ini dilakukan mengingat pengelolaan kawasan Bukit Mongkrang berada di bawah kewenangan Dinas Kehutanan Provinsi. Dengan adanya dukungan lintas instansi, di harapkan proses pencarian dapat berjalan lebih optimal meskipun di hadapkan pada kondisi alam yang tidak bersahabat.

Implikasi Keselamatan Pendakian

Peristiwa hilangnya pendaki di Bukit Mongkrang menjadi pengingat penting akan perlunya peningkatan kesadaran keselamatan dalam aktivitas pendakian. Persiapan fisik, perencanaan rute, pemantauan cuaca, serta kepatuhan terhadap prosedur keselamatan merupakan aspek krusial yang tidak boleh di abaikan.

Selain itu, pengelola kawasan dan pihak terkait perlu terus memperkuat sistem mitigasi risiko, termasuk penyediaan informasi jalur, pos pemantauan, serta mekanisme tanggap darurat. Dengan demikian, kejadian serupa dapat di minimalkan di masa mendatang.