Meta kembali menjadi sorotan setelah mengambil langkah pemutusan hubungan kerja dalam jumlah besar. Perusahaan teknologi global tersebut memangkas ribuan karyawan yang tergabung dalam divisi Reality Labs. Kebijakan ini menandai fase baru penyesuaian strategi bisnis Meta di tengah perubahan arah industri teknologi.
Divisi Reality Labs diketahui mempekerjakan sekitar 15.000 orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 10 persen posisi di nyatakan di hapus. Artinya, kurang lebih 1.500 karyawan terdampak langsung oleh kebijakan ini. Informasi tersebut telah dikonfirmasi oleh pihak perusahaan setelah sebelumnya ramai di beritakan oleh berbagai media internasional.
Komunikasi Internal dan Penegasan Arah Perusahaan
Sebagai tindak lanjut, manajemen Meta segera menyampaikan informasi tersebut kepada karyawan secara internal. Chief Technology Officer Meta, Andrew Bosworth, menjadwalkan pertemuan penting dengan seluruh anggota Reality Labs. Pertemuan ini di nilai krusial karena membahas masa depan divisi dan arah kerja perusahaan ke depan.
Melalui pesan internal, Bosworth juga menegaskan bahwa pemangkasan ini bukan keputusan yang di ambil secara mendadak. Sebaliknya, langkah tersebut merupakan bagian dari evaluasi jangka panjang terhadap efektivitas investasi dan struktur organisasi yang ada saat ini.
Peralihan Fokus Investasi ke Perangkat Wearable
Sementara itu, Meta menjelaskan bahwa perubahan strategi bisnis telah di mulai sejak beberapa bulan sebelumnya. Perusahaan mulai mengalihkan sebagian investasinya dari proyek metaverse ke pengembangan perangkat wearable. Langkah ini dilakukan karena wearable di nilai memiliki potensi pertumbuhan yang lebih stabil dan basis pengguna yang lebih luas.
Selain itu, penghematan biaya dari pengurangan tenaga kerja akan digunakan kembali untuk memperkuat lini produk baru. Dengan strategi tersebut, Meta berharap dapat meningkatkan daya saing produknya di pasar teknologi konsumen.
Prioritas Baru pada Pengalaman Mobile
Di sisi lain, Meta juga mengubah pendekatan pengembangan teknologi virtual dan augmented reality. Alih-alih menjadikan headset VR sebagai fokus utama, perusahaan kini lebih memprioritaskan pengalaman berbasis perangkat mobile. Keputusan ini di ambil karena platform mobile memiliki tingkat adopsi yang jauh lebih tinggi.
Menurut manajemen, mobile menawarkan peluang pertumbuhan yang lebih cepat. Oleh karena itu, tim pengembangan dan sumber daya perusahaan di alihkan hampir sepenuhnya ke arah tersebut. Langkah ini di harapkan dapat mempercepat penerimaan teknologi Meta oleh pengguna global.

Foto : Meta
Divisi VR Tetap Berjalan dengan Struktur Lebih Ramping
Meski demikian, Meta menegaskan bahwa pengembangan teknologi VR tidak sepenuhnya di hentikan. Divisi VR akan tetap beroperasi, namun dengan organisasi yang lebih sederhana. Struktur kerja di buat lebih datar dan fokus pengembangan di persempit.
Tujuan dari restrukturisasi ini adalah menjaga keberlanjutan jangka panjang. Dengan tim yang lebih kecil, Meta berharap dapat mengelola proyek VR secara lebih efisien tanpa membebani keuangan perusahaan.
Tantangan Reality Labs dan Kegagalan Metaverse
Reality Labs selama ini di kenal sebagai ujung tombak pengembangan metaverse Meta. Divisi ini menangani berbagai proyek besar, mulai dari headset VR hingga platform dunia virtual. Namun, dalam praktiknya, metaverse belum mampu menarik minat pasar secara luas.
Minimnya adopsi pengguna menjadi tantangan utama. Produk metaverse Meta di nilai hanya di minati oleh segmen tertentu. Akibatnya, investasi besar yang telah di keluarkan belum memberikan hasil yang sebanding.
Pergeseran Strategi di Tengah Dominasi Teknologi AI
Perubahan arah Meta juga tidak lepas dari pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan. Sejak 2022, AI menjadi pendorong utama inovasi di industri teknologi global. Meta pun mulai memusatkan investasinya ke bidang ini.
Di bandingkan metaverse, teknologi AI dinilai lebih relevan dengan kebutuhan pasar saat ini. Selain itu, AI memberikan peluang monetisasi yang lebih jelas dan cepat. Kondisi ini membuat metaverse semakin tertinggal dalam prioritas perusahaan.
Dampak Kebijakan terhadap Pasar dan Persepsi Publik
Setelah kabar PHK mencuat, pasar merespons dengan cukup hati-hati. Saham Meta sempat mengalami tekanan dalam perdagangan harian. Hal ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap efektivitas strategi jangka panjang perusahaan.
Namun demikian, sebagian analis menilai langkah ini sebagai upaya realistis. Dengan fokus baru pada AI, mobile, dan wearable, Meta di harapkan dapat kembali mencatat pertumbuhan yang lebih berkelanjutan di masa mendatang.