Pendekatan strategi yang kemungkinan di bawa John Herdman saat menangani Tim Nasional Indonesia tidak dapat di lepaskan dari latar belakang dan rekam jejak kepelatihannya di level internasional maupun klub. Herdman di kenal sebagai pelatih yang fleksibel secara taktik, namun memiliki kecenderungan pola permainan yang berakar pada beberapa formasi dasar. Secara umum, terdapat tiga pendekatan utama yang kerap digunakan Herdman, yakni formasi 4-4-2, 3-4-3, dan 4-3-3. Dari ketiga pola ini, Herdman kerap mengembangkan variasi atau turunan sesuai kebutuhan pertandingan dan karakter pemain yang tersedia.

Fleksibilitas tersebut menunjukkan bahwa Herdman bukan tipe pelatih yang terpaku pada satu sistem kaku. Sebaliknya, ia cenderung menjadikan formasi sebagai alat untuk memaksimalkan potensi skuad, bukan sebagai tujuan akhir permainan itu sendiri.

Evolusi Formasi Saat Menangani Tim Nasional Kanada

Ketika pertama kali di percaya menangani tim nasional Kanada, Herdman memulai dengan pendekatan yang relatif konvensional. Formasi 4-3-3 dan 4-3-2-1 menjadi pilihan awal dalam fase pengenalan tim. Pendekatan ini digunakan sebagai sarana untuk memetakan kualitas teknis, daya jelajah, serta pemahaman taktik para pemain. Strategi awal tersebut menunjukkan kecenderungan Herdman untuk melakukan observasi mendalam sebelum mengunci satu sistem permainan tertentu.

Setelah melalui hampir dua puluh pertandingan internasional, Herdman mulai memperkenalkan formasi tiga bek sejajar. Momen penting terjadi ketika Kanada menggunakan formasi 3-4-3 dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2022 menghadapi Suriname. Kemenangan telak yang di raih dalam pertandingan tersebut menjadi titik balik dalam preferensi taktik Herdman. Sejak saat itu, formasi tiga bek mulai digunakan secara konsisten, baik dalam bentuk 3-4-3, 3-5-2, maupun variasi defensif seperti 5-3-2.

Penyesuaian Strategi pada Fase Akhir Kepelatihan Kanada

Menjelang akhir masa kepelatihannya bersama Kanada, Herdman kembali mengeksplorasi pendekatan yang lebih klasik. Formasi 4-4-2 mulai diperkenalkan kembali, sering kali dipadukan dengan skema tiga bek sebagai alternatif situasional. Pilihan ini di nilai lebih sesuai dengan karakteristik fisik dan daya tahan pemain Kanada yang kuat dalam duel dan transisi.

Pendekatan tersebut menegaskan bahwa Herdman memiliki kecenderungan pragmatis dalam pengambilan keputusan taktik. Ia tidak ragu meninggalkan sistem yang sebelumnya sukses jika di rasa tidak lagi optimal untuk kondisi tim yang ada.

Analisis strategi kepelatihan John Herdman dan penerapan formasi tiga bek

Foto : Pemain timnas indonesia.

Konsistensi Pola Saat Menangani Toronto FC

Saat melatih Toronto FC sejak Oktober 2023 hingga Oktober 2024, Herdman kembali menunjukkan konsistensi dalam penggunaan formasi tiga bek. Sejak awal kedatangannya, pola 3-4-3 dan 3-5-2 menjadi fondasi utama permainan tim. Menariknya, pendekatan ini di pertahankan sepanjang masa kepelatihannya, menandakan keyakinan Herdman terhadap efektivitas struktur tersebut dalam kompetisi klub.

Stabilitas sistem ini menunjukkan bahwa Herdman tidak hanya fleksibel, tetapi juga mampu menjaga konsistensi taktik ketika menemukan skema yang sesuai dengan karakter pemain.

Relevansi Formasi Herdman dengan Karakter Tim Nasional Indonesia

Jika di tarik ke konteks Tim Nasional Indonesia, penggunaan formasi tiga bek sejajar bukanlah hal yang asing. Pada periode sebelumnya, pendekatan serupa pernah di terapkan dengan kombinasi empat hingga lima gelandang. Oleh karena itu, kemungkinan Herdman mengadopsi formasi 3-4-3 atau 3-5-2 di nilai cukup relevan dengan pengalaman taktikal para pemain Indonesia.

Meski demikian, Herdman bukanlah pelatih yang kaku secara ideologis. Ia di kenal memiliki kemampuan analisis yang kuat dalam membaca kekuatan dan kelemahan tim. Penyesuaian strategi akan sangat bergantung pada profil pemain, kedalaman skuad, serta tuntutan kompetisi yang di hadapi.

Penekanan pada Ketahanan Fisik dan Pendekatan Pragmatis

Salah satu ciri khas utama pendekatan Herdman adalah penekanan besar pada aspek fisik. Pola permainan yang di bangun umumnya menuntut intensitas tinggi, mobilitas antar lini, serta kemampuan transisi cepat. Tidak mengherankan jika Herdman kerap melibatkan tenaga ahli fisik dalam struktur kepelatihannya untuk menunjang performa pemain.

Secara keseluruhan, pendekatan Herdman dapat di kategorikan sebagai pragmatis adaptif. Fokus utamanya adalah meraih kemenangan, sementara sistem permainan menjadi sarana yang di sesuaikan dengan kondisi tim. Pendekatan ini membuka peluang bagi Tim Nasional Indonesia untuk berkembang secara struktural tanpa kehilangan fleksibilitas taktik dalam jangka panjang.