Konflik AS-Iran – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah kedua negara saling melancarkan serangan hingga Kamis, 9 Juli 2026. Situasi tersebut terjadi ketika Iran tengah menggelar prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei di Kota Mashhad. Konflik yang terus memburuk tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga mulai mengganggu jalur perdagangan internasional di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute pelayaran paling strategis di dunia.

Pemerintah Amerika Serikat mengklaim berhasil menghantam puluhan sasaran militer Iran dalam operasi terbaru. Di sisi lain, Iran melaporkan adanya korban tewas dan luka-luka akibat serangan yang terjadi selama dua hari terakhir. Ketegangan tersebut juga memicu penurunan signifikan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz karena meningkatnya risiko keamanan.

Ribuan Warga Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei

Ribuan warga Iran memadati jalan-jalan Kota Mashhad untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Ayatollah Ali Khamenei. Prosesi pemakaman berlangsung setelah rangkaian upacara berkabung selama enam hari sejak pemimpin tertinggi Iran tersebut di laporkan meninggal dunia pada 28 Februari 2026.

Suasana duka di warnai dengan pengibaran bendera nasional Iran serta berbagai poster yang berisi kecaman terhadap Amerika Serikat. Sebagian pelayat bahkan membawa spanduk berisi ancaman terhadap Presiden AS Donald Trump sebagai bentuk kemarahan atas konflik yang terus berlangsung.

Di tengah prosesi pemakaman, sejumlah fasilitas transportasi menuju Mashhad di laporkan mengalami kerusakan. Pemerintah Iran menyebut beberapa jembatan serta jalur kereta api terdampak serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir sehingga mengganggu akses menuju lokasi pemakaman.

Iran kemudian mengecam tindakan Amerika Serikat sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan menyebut serangan tersebut sebagai kejahatan perang.

Iran Laporkan Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur

Kementerian Kesehatan Iran mengungkapkan bahwa serangan dalam dua hari terakhir menyebabkan sedikitnya 14 orang meninggal dunia dan 78 lainnya mengalami luka-luka di lima provinsi.

Media pemerintah Iran juga melaporkan adanya serangan di sekitar Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Bushehr. Selain itu, beberapa ledakan terdengar di Bandar Abbas, sementara pelabuhan Sirik, Jask, dan Pulau Abu Musa juga di laporkan menjadi sasaran serangan rudal.

Hingga kini, tingkat kerusakan di berbagai lokasi tersebut belum dapat di pastikan karena proses pendataan masih berlangsung.

Di wilayah Chabahar, pemadaman listrik sempat terjadi setelah sejumlah fasilitas mengalami gangguan. Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan kerusakan pada menara pengawas maritim, sementara kebakaran juga di laporkan terjadi di salah satu kompleks milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Meski demikian, seorang pejabat pertahanan Amerika Serikat menyatakan bahwa militer AS tidak melakukan serangan tambahan dalam beberapa jam terakhir.

Amerika Serikat Klaim Hancurkan 90 Target Militer Iran

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi terbaru bertujuan melemahkan kemampuan militer Iran yang di nilai mengancam keselamatan pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Menurut pernyataan resmi, sekitar 90 sasaran berhasil di hancurkan dalam operasi tersebut. Target yang di serang meliputi sistem pertahanan udara, pusat logistik militer, hingga berbagai fasilitas pendukung di sepanjang pesisir Iran.

CENTCOM menegaskan operasi tersebut merupakan kelanjutan dari serangan sebelumnya dan menjadi bagian dari upaya menjaga keamanan jalur perdagangan internasional yang melintasi Selat Hormuz.

Pihak Amerika juga kembali menuding Iran bertanggung jawab atas meningkatnya ancaman terhadap kapal dagang dan awak sipil yang melintas di kawasan tersebut.

Suasana pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad di tengah meningkatnya konflik Amerika Serikat dan Iran serta memanasnya situasi di Selat Hormuz.

Lautan manusia menyambut kedatangan truk yang membawa peti jenazah mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Teheran, 6 Juli 2026.

Iran Balas Serangan dengan Menargetkan Aset AS

Sebagai respons atas operasi militer Amerika Serikat, Iran mengaku melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah aset milik AS yang berada di kawasan Teluk.

Pemerintah Iran menyebut sasaran serangan berada di Kuwait, Bahrain, Qatar, Irak, hingga Yordania. Beberapa negara kemudian melaporkan insiden keamanan, termasuk suara ledakan di Manama, ibu kota Bahrain.

Kuwait mengklaim berhasil mencegat sejumlah rudal dan pesawat nirawak yang memasuki wilayahnya. Sementara itu, Qatar meningkatkan status kewaspadaan keamanan sebagai langkah antisipasi.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan dari Amerika Serikat.

Menurutnya, setiap bentuk serangan akan mendapat balasan yang setimpal. Ia juga menegaskan pembukaan kembali Selat Hormuz hanya dapat dilakukan melalui kesepakatan dengan Iran, bukan karena tekanan dari pihak luar.

Aktivitas Pelayaran Selat Hormuz Anjlok

Konflik yang semakin intens memberikan dampak langsung terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz.

Direktur Kelautan Intertanko, Phil Belcher, mengungkapkan jumlah kapal yang melintas di jalur selatan Selat Hormuz kini turun drastis.

Jika sebelumnya sekitar 70 kapal melintasi kawasan tersebut setiap hari, kini jumlahnya hanya berkisar 30 kapal. Bahkan, pada jalur tertentu yang berada dekat wilayah Oman, jumlah kapal hanya mencapai angka satu digit.

Padahal sebelum konflik memanas, rata-rata sekitar 130 kapal melewati Selat Hormuz setiap harinya.

Belcher menjelaskan situasi keamanan yang berubah sangat cepat membuat perusahaan pelayaran kesulitan menyusun jadwal operasional. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko bagi awak kapal yang bekerja di kawasan tersebut.

Trump Sebut Gencatan Senjata Tidak Lagi Berlaku

Ketegangan terbaru menandai memburuknya hubungan kedua negara setelah nota kesepahaman yang di tandatangani pada 17 Juni 2026.

Kesepakatan tersebut sebelumnya mencakup gencatan senjata selama 60 hari, jaminan keamanan pelayaran di Selat Hormuz, serta kelanjutan perundingan mengenai pencabutan sanksi terhadap Iran.

Namun Presiden Donald Trump menyatakan kesepakatan tersebut telah berakhir. Ia mengaku tidak lagi percaya Iran akan menghormati isi perjanjian dan menilai proses negosiasi tidak memberikan hasil yang di harapkan.

Trump juga menyebut Iran sempat menghubungi Amerika Serikat untuk membahas peluang tercapainya kesepakatan baru. Meski demikian, ia menyatakan tidak lagi berminat melanjutkan pembicaraan.

Pernyataan tersebut langsung mendapat respons dari Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Melalui media sosial X, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan membalas pernyataan keras dengan kata-kata, melainkan melalui tindakan yang di anggap perlu demi mempertahankan kepentingan negaranya.

Meningkatnya eskalasi konflik ini memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah. Selain berpotensi memperluas konflik regional, situasi tersebut juga dapat memengaruhi perdagangan energi dunia mengingat Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas internasional.