Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 – siap meramaikan Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, selama tujuh hari pada 20–26 September 2026. Alun-alun Trenggalek akan menjadi pusat kegiatan yang mempertemukan seniman, pelaku UMKM, masyarakat, hingga wisatawan dalam sebuah perayaan seni tradisional.
Festival tersebut tidak hanya menjadi panggung bagi kesenian jaranan khas Trenggalek. Penyelenggara turut memberi kesempatan kepada kelompok jaranan dengan berbagai gaya untuk menunjukkan kemampuan mereka. Kompetisi pun terbagi berdasarkan kategori peserta dan jenis kesenian.
Selain pertunjukan seni, masyarakat dapat menemukan berbagai aktivitas pendukung selama festival berlangsung. Bazar UMKM, sajian kuliner tradisional, pameran kerajinan, hingga Rampak Barong ikut melengkapi agenda tersebut.
Festival tahun ini juga mendapat perhatian lebih luas karena menjadi bagian dari Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Masuknya agenda tersebut ke dalam KEN membuka peluang lebih besar untuk mengenalkan budaya Trenggalek sekaligus mendorong aktivitas pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Jadwal Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026
Festival berlangsung selama sepekan dengan agenda berbeda setiap malam. Seluruh pertunjukan utama mengambil lokasi di Alun-alun Trenggalek dan dimulai pada pukul 19.00 WIB.
Pada Minggu, 20 September 2026, rangkaian festival dimulai dengan acara pembukaan. Turonggo Yakso dan Rampak Barong menjadi bagian dari pertunjukan yang dapat dinikmati masyarakat. Pengunjung juga bisa menjelajahi bazar UMKM serta mencicipi aneka kuliner tradisional. Masyarakat dapat menghadiri pembukaan tanpa membeli tiket.
Agenda berlanjut pada Senin, 21 September 2026 melalui kompetisi Turonggo Yakso Bocah. Kategori tersebut memberi panggung kepada anak-anak untuk memperlihatkan kemampuan mereka sekaligus memperkenalkan seni tradisional kepada generasi sejak usia dini.
Kemudian, Selasa, 22 September 2026, giliran peserta kategori Turonggo Yakso Remaja mengambil bagian dalam kompetisi. Kehadiran kategori ini menjadi salah satu cara untuk memperkuat proses regenerasi pelaku seni jaranan di Trenggalek.
Selanjutnya, Rabu, 23 September 2026, penyelenggara menjadwalkan kompetisi Turonggo Yakso kategori umum. Peserta tingkat SLTA hingga kelompok umum dapat menunjukkan kemampuan mereka dalam kategori tersebut.
Kompetisi Jaranan Nasional Ikut Meramaikan Festival
Memasuki Kamis, 24 September 2026, festival mulai menghadirkan kompetisi Non-Turonggo Yakso Umum. Kategori ini memperluas warna pertunjukan karena menghadirkan jenis jaranan di luar tradisi Turonggo Yakso, termasuk gaya Senterewe dan Pegon.
Kompetisi tersebut berlanjut pada Jumat, 25 September 2026. Dengan demikian, masyarakat berkesempatan menyaksikan keragaman karakter jaranan yang berkembang di berbagai wilayah.
Pada kedua hari tersebut, penyelenggara juga menghadirkan Rampak Barong, pameran kerajinan, bazar UMKM, serta beragam pilihan makanan tradisional.
Sementara itu, malam terakhir berlangsung pada Sabtu, 26 September 2026. Turonggo Yakso dan Rampak Barong kembali hadir untuk menutup rangkaian festival. Sama seperti pembukaan, masyarakat dapat mengikuti agenda penutupan secara gratis.
Selama kegiatan berlangsung, kawasan festival menyediakan sejumlah fasilitas untuk pengunjung. Fasilitas tersebut antara lain tempat parkir, musala, toilet, area inklusif, serta area VIP.
Menjadi Bagian Karisma Event Nusantara 2026
Festival Jaranan Trenggalek Terbuka tahun ini memiliki posisi penting dalam kalender kegiatan pariwisata karena tercantum dalam Karisma Event Nusantara 2026.
Program tersebut menjadi wadah bagi berbagai kegiatan unggulan daerah yang memiliki potensi menarik wisatawan. Karena itu, kehadiran Festival Jaranan Trenggalek dalam KEN juga membuka kesempatan untuk memperluas pengenalan seni tradisional asal Jawa Timur tersebut.
Festival tidak hanya berorientasi pada kompetisi. Kegiatan ini juga menghubungkan unsur kebudayaan dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Kehadiran bazar, kuliner, serta kerajinan memberi kesempatan kepada pelaku usaha lokal untuk terlibat langsung selama acara berlangsung.
Pembagian kategori berdasarkan kelompok usia juga memperkuat fungsi regenerasi. Anak-anak, remaja, hingga seniman dewasa memiliki kesempatan yang sama untuk tampil. Dengan cara tersebut, pengetahuan mengenai jaranan dapat terus berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Festival Jaranan Trenggalek Terbuka.
Turonggo Yakso Jadi Identitas Khas Trenggalek
Salah satu daya tarik utama festival adalah Turonggo Yakso, seni pertunjukan yang memiliki akar kuat dalam kehidupan masyarakat Dongko, Trenggalek.
Turonggo Yakso memiliki karakter visual yang membuatnya mudah dibedakan dari sejumlah kesenian jaranan lainnya. Jika jaranan pada umumnya menggunakan properti berbentuk kuda, Turonggo Yakso menampilkan perpaduan unsur kuda dan yaksa atau raksasa.
Pengrajin secara tradisional menggunakan kulit lembu maupun kerbau sebagai bahan pembuatan properti tersebut. Bagian kepala menampilkan karakter raksasa dengan rambut tebal. Sementara itu, bentuk tubuh hingga ekornya tetap mempertahankan karakter seekor kuda.
Perpaduan tersebut menciptakan penampilan yang kuat dan khas ketika para penari bergerak di arena pertunjukan.
Gerakan Turonggo Yakso Terinspirasi Kehidupan Petani
Keunikan Turonggo Yakso tidak berhenti pada bentuk propertinya. Koreografi tarian ini juga memperlihatkan karakter energik, tegas, dinamis, serta atraktif.
Dalam pertunjukannya, penari mengenal gerakan baku atau ukel serta variasi tambahan yang disebut lawung. Sejumlah gerakan mengambil inspirasi dari keseharian masyarakat agraris di wilayah Dongko.
Aktivitas menuju sawah, menyusuri pematang, mengolah tanah, menanam, merawat tanaman, memberikan pupuk, hingga memanen menjadi bagian dari inspirasi gerakan. Unsur tersebut menunjukkan hubungan erat antara seni pertunjukan dan kehidupan masyarakat yang melahirkannya.
Sementara itu, figur yaksa membawa makna simbolis tersendiri. Karakter raksasa dapat menggambarkan berbagai kekuatan atau dorongan yang perlu dikendalikan. Dalam sejumlah pemaknaan, figur jaran dengan kepala raksasa juga menggambarkan hawa nafsu yang harus mampu manusia kendalikan.
Berakar dari Tradisi Baritan Masyarakat Dongko
Perjalanan Turonggo Yakso berkaitan erat dengan tradisi Baritan yang hidup di tengah masyarakat Dongko. Tradisi agraris tersebut menjadi salah satu landasan berkembangnya bentuk pertunjukan yang kemudian dikenal sebagai Turonggo Yakso.
Latar tersebut membuat berbagai unsur kehidupan pertanian melekat kuat pada kesenian ini. Nilai mengenai rasa syukur, harapan memperoleh keselamatan, kehidupan agraris, serta usaha menghadapi berbagai gangguan turut membentuk karakter budayanya.
Perkembangan Turonggo Yakso di Dongko tercatat mulai menguat sekitar 1976. Seiring berjalannya waktu, kesenian tersebut berkembang dan semakin dikenal sebagai salah satu identitas budaya Kabupaten Trenggalek.
Kini, Turonggo Yakso terus mendapatkan ruang untuk bertahan sekaligus berkembang melalui berbagai pertunjukan dan festival.
Panggung Budaya Sekaligus Penggerak Wisata Trenggalek
Penyelenggaraan Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 memperlihatkan bahwa seni tradisional dapat hadir dalam kegiatan yang melibatkan banyak sektor. Seniman memperoleh ruang berekspresi, generasi muda memiliki kesempatan belajar, sedangkan pelaku UMKM dapat memperkenalkan produk kepada pengunjung.
Di sisi lain, wisatawan mempunyai kesempatan mengenal lebih dekat kekayaan seni pertunjukan Trenggalek. Kehadiran peserta dengan beragam gaya jaranan juga membuat festival menjadi tempat bertemunya berbagai ekspresi budaya.
Masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan dapat mendatangi Alun-alun Trenggalek pada 20–26 September 2026. Dengan agenda berbeda setiap malam, Festival Jaranan Trenggalek Terbuka 2026 menawarkan rangkaian pertunjukan budaya sekaligus kesempatan mengenal Turonggo Yakso sebagai salah satu warisan seni masyarakat Trenggalek.