Saparan Bekakak Sleman 2026 – Upacara Adat Saparan Bekakak kembali berlangsung dengan khidmat di Situs Gunung Gamping, Kalurahan Ambarketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Tradisi budaya yang telah di wariskan secara turun-temurun ini menjadi salah satu agenda tahunan masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah sekaligus pelestarian nilai-nilai budaya Jawa.

Ratusan warga dari berbagai daerah memadati kawasan Situs Gunung Gamping untuk menyaksikan prosesi puncak acara. Meski di hadiri banyak pengunjung, suasana sakral tetap terasa sepanjang rangkaian ritual berlangsung. Masyarakat mengikuti setiap tahapan dengan penuh rasa hormat sebagai wujud penghargaan terhadap tradisi yang telah bertahan selama berabad-abad.

Saparan Bekakak bukan sekadar pertunjukan budaya, melainkan sebuah ritual yang sarat makna filosofis mengenai pengorbanan, kesetiaan, kebersamaan, serta doa agar masyarakat senantiasa memperoleh keselamatan dan kesejahteraan.

Prosesi Penyembelihan Boneka Bekakak Menjadi Puncak Acara

Bagian yang paling di nanti dalam Upacara Saparan Bekakak adalah prosesi penyembelihan sepasang boneka bekakak. Boneka tersebut di buat menyerupai manusia dan di susun menggunakan bahan utama berupa beras ketan serta beras Jawa yang telah di olah menjadi adonan khusus.

Proses pembuatannya dilakukan secara gotong royong oleh warga Ambarketawang. Beras terlebih dahulu di giling hingga menjadi tepung, kemudian di masak dan di bentuk menjadi sepasang boneka. Untuk melengkapi simbolisasi dalam ritual, di gunakan cairan gula merah atau gula Jawa yang melambangkan darah.

Dalam prosesi tersebut, boneka bekakak tidak di persembahkan sebagai sesajen, melainkan di jadikan simbol penghormatan kepada tokoh yang memiliki jasa besar dalam sejarah Gunung Gamping. Setelah rangkaian doa di panjatkan, penyembelihan dilakukan sebagai bagian dari tradisi yang telah di wariskan secara turun-temurun.

Usai prosesi selesai, bagian tubuh boneka bekakak kemudian di bagikan kepada masyarakat yang hadir. Banyak warga percaya bahwa memperoleh bagian dari boneka tersebut menjadi simbol harapan akan datangnya keberkahan dalam kehidupan mereka.

Mengenang Pengabdian Ki Wiro Suto dan Nyi Wiro Suto

Tradisi Saparan Bekakak memiliki keterkaitan erat dengan kisah Ki Wiro Suto dan istrinya, Nyi Wiro Suto. Ki Wiro Suto di kenal sebagai juru kunci Gunung Gamping sekaligus Abdi Dalem yang di percaya oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Menurut cerita yang di wariskan secara turun-temurun, Ki Wiro Suto meninggal dunia ketika menjalankan tugas untuk meninjau kawasan Gunung Gamping. Pada masa itu, lokasi tersebut di kenal berbahaya karena aktivitas penambangan batu kapur yang kerap menimbulkan kecelakaan hingga memakan korban jiwa.

Kepergian Ki Wiro Suto menjadi kehilangan besar bagi Keraton Yogyakarta. Sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan kesetiaannya. Sri Sultan Hamengku Buwono I kemudian memerintahkan masyarakat sekitar untuk menggelar ritual yang menjadi cikal bakal Upacara Saparan Bekakak.

Tradisi tersebut terus di lestarikan hingga saat ini sebagai pengingat atas jasa, loyalitas, serta pengabdian Ki Wiro Suto dan Nyi Wiro Suto kepada Keraton dan masyarakat.

Prosesi penyembelihan boneka bekakak dalam Upacara Adat Saparan Bekakak 2026 di Situs Gunung Gamping, Sleman, Yogyakarta.

Prosesi puncak Saparan Bekakak di Situs Gunung Gamping, Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jumat (17/7/2026).

Kirab Budaya Menjadi Daya Tarik Masyarakat

Sebelum prosesi penyembelihan dilaksanakan, masyarakat terlebih dahulu mengikuti kirab budaya yang di mulai dari Kantor Kalurahan Ambarketawang menuju Situs Gunung Gamping.

Sepasang boneka bekakak di arak bersama berbagai perlengkapan adat, termasuk gunungan hasil bumi yang berisi aneka buah-buahan. Iring-iringan kirab berlangsung meriah dengan di ikuti warga, tokoh masyarakat, perangkat desa. Hingga para tamu yang datang untuk menyaksikan tradisi tersebut.

Setelah seluruh rangkaian ritual selesai, gunungan hasil bumi di bagikan kepada masyarakat. Tradisi berebut hasil gunungan menjadi salah satu momen yang paling di tunggu karena masyarakat meyakini hasil bumi tersebut membawa doa dan harapan akan rezeki yang melimpah.

Antusiasme warga terlihat ketika mereka berusaha memperoleh buah maupun ubo rampe dari gunungan. Selain menjadi bagian dari tradisi, kegiatan ini juga memperkuat rasa kebersamaan di tengah masyarakat.

Tradisi yang Menguatkan Nilai Kebersamaan dan Pluralisme

Pemerintah Kabupaten Sleman menilai Upacara Saparan Bekakak memiliki nilai budaya yang sangat penting bagi kehidupan sosial masyarakat. Selain menjaga warisan leluhur, tradisi ini juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga dari berbagai latar belakang.

Pelaksanaan acara yang rutin di gelar setiap tahun mampu menghadirkan masyarakat dari berbagai wilayah sehingga tercipta interaksi sosial yang positif. Nilai gotong royong, toleransi, serta silaturahmi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penyelenggaraan tradisi ini.

Melalui kegiatan budaya seperti Saparan Bekakak, masyarakat tidak hanya di ajak mengenang sejarah. Tetapi juga di ajak mempertahankan identitas budaya lokal di tengah perkembangan zaman. Tradisi tersebut menjadi bukti bahwa kearifan lokal masih memiliki tempat penting dalam kehidupan masyarakat modern.

Saparan Bekakak Menjadi Warisan Budaya yang Terus Dilestarikan

Upacara Adat Saparan Bekakak merupakan salah satu kekayaan budaya Kabupaten Sleman yang memiliki nilai sejarah, spiritual, dan sosial. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap jasa para leluhur sekaligus media untuk mempererat persatuan masyarakat.

Dengan keterlibatan warga dalam setiap proses pelaksanaan, mulai dari pembuatan boneka bekakak, kirab budaya, hingga pembagian hasil gunungan. Saparan Bekakak menunjukkan kuatnya semangat gotong royong yang masih terpelihara hingga kini.

Keberlangsungan tradisi ini di harapkan mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus mengenal, menjaga, dan melestarikan warisan budaya Indonesia agar tetap hidup di masa mendatang. Selain menjadi daya tarik wisata budaya, Saparan Bekakak juga menjadi pengingat bahwa nilai kesetiaan, pengabdian, kebersamaan, dan rasa syukur merupakan warisan luhur yang patut terus di jaga.