Pekerja Tewas Di Proyek TB Simatupang – Peristiwa tragis terjadi di sebuah proyek pembangunan gedung di kawasan Jalan TB Simatupang, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Jumat (3/4/2026). Empat orang pekerja di laporkan meninggal dunia setelah di duga terpapar gas berbahaya saat menjalankan aktivitas kerja di lokasi proyek tersebut. Insiden ini menimbulkan perhatian serius terkait standar keselamatan kerja di area konstruksi.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan, AKBP Mohamad Iskandarsyah, membenarkan adanya penemuan empat korban meninggal dunia di lokasi kejadian. Ia menyampaikan bahwa proses autopsi masih berlangsung guna memastikan penyebab pasti kematian para korban. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan mendalam terhadap insiden tersebut.
Kronologi Kejadian di Lokasi Proyek
Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian, insiden bermula ketika salah seorang pekerja mengalami kecelakaan saat membuka penutup sebuah tempat penyimpanan air bersih atau yang dikenal sebagai gelonteng. Dalam proses tersebut, pekerja tersebut di duga kehilangan keseimbangan hingga terjatuh ke dalam lubang.
Melihat rekannya dalam kondisi berbahaya, seorang pekerja lain berusaha memberikan pertolongan. Namun nahas, upaya penyelamatan tersebut justru berujung pada kejadian serupa, di mana ia ikut terjatuh ke dalam lokasi yang sama. Situasi ini kemudian memicu kepanikan di antara pekerja lain di sekitar lokasi proyek.
Seorang saksi berinisial DPA mengungkapkan bahwa saat mencoba membantu proses evakuasi, dirinya merasakan kondisi yang tidak biasa di sekitar area tersebut. Ia mengaku mengalami sesak napas dan merasakan suhu panas yang cukup intens dari dalam lubang. Hal ini mengindikasikan adanya paparan gas berbahaya yang keluar dari dalam gelonteng.
Dugaan Paparan Gas Beracun Jadi Penyebab Utama
Kapolsek Jagakarsa, AKP Nurma Dewi, menjelaskan bahwa keempat korban di duga meninggal dunia akibat menghirup gas beracun yang berasal dari dalam tempat penyimpanan air tersebut. Gas tersebut di duga terperangkap di dalam ruang tertutup dan kemudian keluar saat penutup di buka.
Paparan gas berbahaya di ruang tertutup seperti ini memang di kenal memiliki risiko tinggi, terutama jika tidak di lengkapi dengan sistem ventilasi yang memadai. Dalam banyak kasus, gas beracun dapat menyebabkan sesak napas, kehilangan kesadaran, hingga kematian dalam waktu singkat.
Kondisi ini di perkuat oleh kesaksian DPA yang merasakan gejala awal berupa sesak dan panas saat berada di sekitar lokasi. Gejala tersebut umumnya berkaitan dengan paparan gas berbahaya dalam konsentrasi tinggi.

Ilustrasi jenazah.
Proses Evakuasi dan Penanganan Korban
Setelah menyadari kondisi darurat, saksi segera menghubungi layanan ambulans untuk melakukan evakuasi. Para korban kemudian di larikan ke Rumah Sakit Pasar Rebo untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, meskipun telah mendapatkan penanganan, empat pekerja di nyatakan meninggal dunia oleh pihak rumah sakit. Selain korban meninggal, terdapat tiga pekerja lain yang mengalami gangguan pernapasan akibat insiden tersebut. Ketiganya saat ini masih menjalani perawatan intensif.
Evaluasi Keselamatan Kerja di Proyek Konstruksi
Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di lingkungan proyek konstruksi. Aktivitas di ruang tertutup seperti tangki air, sumur, atau saluran bawah tanah memerlukan prosedur khusus, termasuk pemeriksaan kualitas udara sebelum pekerja masuk ke dalamnya.
Tanpa langkah pengamanan yang tepat, risiko kecelakaan kerja dapat meningkat secara signifikan, terutama yang berkaitan dengan paparan gas beracun. Oleh karena itu, kejadian ini di harapkan menjadi evaluasi serius bagi pihak terkait untuk memperketat pengawasan serta memastikan keselamatan para pekerja di lapangan.
Pihak kepolisian hingga saat ini masih melakukan penyelidikan guna mengungkap penyebab pasti insiden tersebut, termasuk kemungkinan adanya kelalaian dalam penerapan prosedur keselamatan kerja.