AI Bubble kembali menjadi topik yang ramai dibahas setelah saham sejumlah perusahaan memori mengalami penurunan tajam meski kinerja bisnisnya justru mencapai rekor baru. Fenomena ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan investor, yakni apakah industri kecerdasan buatan mulai memasuki gelembung seperti era dot-com pada akhir 1990-an, atau justru pasar sedang menjalani koreksi yang masih tergolong sehat.

Perdebatan tersebut semakin menguat setelah hedge fund Situational Awareness yang dipimpin Leopold Aschenbrenner mengalami penyusutan nilai aset dalam waktu sangat singkat. Pada awal Juli 2026, dana investasi tersebut mengelola aset sekitar 45 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp730 triliun. Namun, menjelang akhir bulan, berbagai laporan memperkirakan nilainya hanya tersisa sekitar 10 miliar dollar AS.

Tekanan akibat margin call memaksa dana tersebut melepas sebagian besar portofolio saham publiknya. Citadel milik Ken Griffin kemudian membeli sebagian aset tersebut. Bloomberg, CNBC, hingga CNBC Indonesia melaporkan proses penjualan besar-besaran itu yang berlangsung kurang dari satu bulan.

Siapa Leopold Aschenbrenner?

Leopold Aschenbrenner dikenal sebagai sosok muda yang memiliki reputasi kuat di dunia AI. Pada usia 25 tahun, ia telah menyelesaikan pendidikan di Universitas Columbia setelah masuk kuliah ketika masih berusia 15 tahun. Ia juga pernah bergabung dalam tim Superalignment OpenAI sebelum perusahaan mengakhiri kerja samanya pada 2024.

Pada tahun yang sama, Aschenbrenner menerbitkan esai panjang berjudul Situational Awareness. Dalam tulisan tersebut, ia memprediksi bahwa perkembangan AI akan meningkatkan kebutuhan terhadap cip, memori, pusat data, hingga pasokan listrik dalam skala besar.

Ia kemudian mengubah gagasan tersebut menjadi hedge fund dengan nama yang sama. Dana awal sekitar 225 juta dollar AS berasal dari Patrick Collison, John Collison, Nat Friedman, Daniel Gross, serta firma perdagangan Jane Street.

Prediksi tersebut sempat terbukti. Permintaan memori meningkat drastis seiring berkembangnya AI generatif. Samsung bahkan membukukan laba operasi kuartal kedua sebesar 89,4 triliun won, sementara divisi semikonduktornya diproyeksikan mencetak laba lebih besar dibandingkan total akumulasi sekitar empat dekade sebelumnya.

Selain itu, harga DDR5 untuk konsumen meningkat sekitar empat hingga lima kali lipat di bandingkan September 2025. Berkat momentum tersebut, Situational Awareness di kabarkan menghasilkan imbal balik hingga sekitar 1.000 persen sejak berdiri pada 2024.

AI Bubble

Ilustrasi memori RAM CXMT.

Dua Strategi Investasi yang Berakhir Gagal

Strategi investasi hedge fund tersebut sebenarnya cukup mudah di pahami. Aschenbrenner membeli saham perusahaan yang mendukung infrastruktur AI dalam jumlah besar. Berdasarkan dokumen regulator kuartal pertama, portofolionya di dominasi Nebius Group, SanDisk, Micron, CoreWeave, dan SK Hynix.

Di sisi lain, ia juga mengambil posisi jual atau short selling terhadap saham perusahaan perangkat lunak seperti Adobe. Ia meyakini perkembangan AI akan mengurangi prospek bisnis software konvensional.

Masalah muncul ketika kedua strategi itu gagal secara bersamaan pada pertengahan Juli.

Harga saham perusahaan infrastruktur AI justru turun lebih dari 35 persen hanya dalam beberapa pekan. Sebaliknya, Adobe bergerak naik dan memberikan kerugian tambahan pada posisi short.

Risiko semakin besar karena dana tersebut menggunakan leverage sekitar 400 persen atau setara empat kali modal sendiri. Dalam kondisi seperti itu, penurunan nilai portofolio sebesar 10 persen saja mampu menghapus sekitar 40 persen modal investasi.

Akibat tekanan tersebut, sejumlah prime broker seperti Bank of America, Goldman Sachs, dan JPMorgan menjual sebagian aset untuk memenuhi kewajiban margin. Setelah proses likuidasi selesai, investasi privat di Anthropic menjadi salah satu aset terbesar yang masih tersisa.

Mengapa Saham Memori Turun Saat Laba Justru Rekor?

Fenomena yang paling menarik sebenarnya bukan berasal dari buruknya kinerja perusahaan memori.

Micron baru saja melaporkan pendapatan kuartalan sekitar 41,46 miliar dollar AS atau melonjak sekitar 346 persen di bandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. SK Hynix juga mencatat laba tertinggi sepanjang sejarah perusahaan.

Namun, hingga akhir Juli, harga saham SK Hynix justru turun sekitar 41,5 persen dan mencatat performa bulanan terburuk sejak Oktober 2008.

Dalam periode yang sama, kapitalisasi pasar industri semikonduktor global menyusut lebih dari satu triliun dollar AS hanya dalam satu pekan. Di Korea Selatan, indeks KOSPI bahkan sempat merosot hampir 10 persen dalam perdagangan intraday hingga memicu penghentian perdagangan sementara atau circuit breaker.

Penurunan tersebut bukan berasal dari melemahnya permintaan memori. Pasar justru mengoreksi ekspektasi yang sebelumnya terlalu tinggi.

Selama dua tahun terakhir, investor memberikan valuasi premium terhadap hampir seluruh perusahaan yang berkaitan dengan infrastruktur AI. Indeks PHLX Semiconductor (SOX) bahkan sempat melonjak lebih dari 100 persen dalam kurun 12 bulan sebelum koreksi terjadi.

Ketika Alphabet kembali meningkatkan belanja modal AI, fokus investor mulai berubah. Mereka tidak lagi bertanya seberapa besar investasi AI akan meningkat, melainkan kapan belanja tersebut benar-benar menghasilkan keuntungan yang sebanding.

Kecemasan pasar juga bertambah setelah produsen memori asal Tiongkok, CXMT, mempersiapkan debut di Bursa Shanghai. Investor mulai memperhitungkan kemungkinan bertambahnya pasokan memori dalam beberapa tahun mendatang. Kekhawatiran mengenai suku bunga semakin mempercepat perubahan valuasi di sektor ini.