Parade Seni Budaya – kembali menjadi daya tarik utama dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 Lembaga Perkreditan Desa (LPD) Desa Adat Bedha. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini tidak hanya menghadirkan berbagai pertunjukan seni tradisional, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan sosial masyarakat, memperkuat nilai-nilai budaya, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi desa melalui keterlibatan pelaku UMKM.

Mengangkat tema “Nangun Kerthi Jagat Bali”, perayaan tersebut menegaskan komitmen masyarakat Desa Adat Bedha dalam menjaga keseimbangan kehidupan sesuai filosofi Tri Hita Karana. Yaitu keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai tersebut di wujudkan melalui berbagai aktivitas budaya yang melibatkan seluruh unsur masyarakat desa adat.

Parade Budaya Menjadi Ajang Pelestarian Warisan Tradisi

Selama penyelenggaraan acara, masyarakat di suguhkan beragam pertunjukan seni khas Bali yang sarat makna. Sejumlah tarian sakral seperti Tari Gambang, Tari Baris Kerkuak, dan Tari Baris Dabdab menjadi bagian penting dalam parade budaya tahun ini. Selain itu, kemeriahan juga terlihat melalui penampilan gong kebyar, baleganjur, parade ogoh-ogoh. Hingga parade penjor yang melibatkan seluruh banjar adat.

Sebanyak 38 banjar adat di lingkungan Desa Adat Bedha turut berpartisipasi dalam setiap rangkaian kegiatan. Kehadiran seluruh banjar tersebut menunjukkan tingginya semangat gotong royong dan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian budaya yang telah di wariskan secara turun-temurun.

Penyelenggaraan parade yang berlangsung sejak Jumat hingga Minggu ini menjadi salah satu agenda budaya terbesar di desa tersebut. Dan rutin di gelar setiap lima tahun sebagai bagian dari perayaan ulang tahun LPD.

Memperkuat Harmoni Masyarakat Lewat Konsep Tri Hita Karana

Bendesa Adat Bedha, I Nyoman Arnaya, menjelaskan bahwa tujuan utama parade budaya bukan hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat. Kegiatan ini di rancang sebagai ruang untuk mempererat hubungan antarkomunitas adat sekaligus memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat.

Menurutnya, mengumpulkan seluruh banjar adat dalam satu kegiatan bukanlah hal yang mudah. Oleh karena itu, parade budaya menjadi kesempatan berharga bagi setiap banjar untuk menampilkan identitas, kesenian, serta tradisi yang di miliki sehingga tercipta saling mengenal dan saling menghargai.

Konsep Tri Hita Karana menjadi landasan utama penyelenggaraan acara. Melalui nilai tersebut, masyarakat di ajak untuk terus menjaga keseimbangan kehidupan sosial. Sekaligus mempertahankan jati diri budaya Bali di tengah perkembangan zaman.

LPD Berperan Aktif Menjaga Identitas Budaya Bali

Sebagai penyelenggara utama, LPD Desa Adat Bedha menunjukkan bahwa keberadaannya tidak sebatas menjalankan fungsi sebagai lembaga keuangan desa adat. Lembaga tersebut juga memiliki tanggung jawab sosial dan budaya dalam mendukung pelestarian warisan leluhur.

Seluruh biaya penyelenggaraan parade budaya di tanggung oleh LPD sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pengembangan seni dan adat istiadat Bali. Dukungan tersebut di harapkan mampu menjaga keberlangsungan tradisi. Sekaligus memperkenalkan peran LPD sebagai lembaga yang ikut membangun kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Melalui kegiatan budaya seperti ini, masyarakat dapat melihat bahwa pembangunan ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas budaya lokal tanpa harus saling mengorbankan.

Parade seni budaya HUT ke-34 LPD Desa Adat Bedha dengan penampilan tari tradisional, baleganjur, ogoh-ogoh, dan penjor khas Bali.

Foto: Pertunjukan parade seni budaya Desa Adat Bedha, Tabanan, Sabtu (11/7/2026).

UMKM Lokal Ikut Mendapat Ruang Promosi

Tidak hanya menghadirkan pertunjukan budaya, perayaan HUT LPD juga membuka kesempatan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk mempromosikan berbagai produk unggulan desa.

Beragam hasil karya masyarakat di pamerkan kepada pengunjung, termasuk kerajinan tradisional yang menjadi ciri khas wilayah setempat. Salah satu produk yang menarik perhatian adalah kerajinan pembuatan keris dari Banjar Langudu, Desa Pangkung Tibah.

Keikutsertaan UMKM di harapkan mampu meningkatkan transaksi ekonomi selama acara berlangsung. Sekaligus memperluas pasar bagi produk-produk lokal yang memiliki nilai budaya dan ekonomi tinggi.

Meningkatnya jumlah pengunjung selama penyelenggaraan parade juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas perdagangan masyarakat sekitar. Mulai dari pedagang kuliner hingga pelaku usaha kecil lainnya.

Generasi Muda Didorong Menjadi Pewaris Budaya

Dalam kesempatan tersebut, Arnaya juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam setiap kegiatan adat maupun budaya. Menurutnya, masa depan budaya Bali sangat bergantung pada kepedulian generasi penerus untuk terus mempelajari, menjaga, dan mengembangkan tradisi yang telah di wariskan oleh para leluhur.

Kemajuan teknologi di nilai tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan nilai-nilai budaya. Justru, perkembangan zaman harus di manfaatkan sebagai sarana memperkenalkan budaya Bali kepada masyarakat yang lebih luas tanpa menghilangkan keaslian tradisinya.

Partisipasi generasi muda dalam parade seni budaya menjadi salah satu bentuk investasi sosial agar kekayaan budaya Bali tetap lestari di masa mendatang.

HUT ke-34 LPD Diisi Berbagai Kegiatan Sosial

Ketua LPD Desa Adat Bedha, I Made Sunarta, menjelaskan bahwa peringatan HUT ke-34 mengangkat tema “Bedha Bersatu Bersama Menuju Masyarakat Mandiri.” Tema tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dalam membangun desa yang lebih maju, mandiri, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai adat.

Rangkaian kegiatan peringatan sebenarnya telah di mulai sejak awal tahun 2026. Salah satu program sosial yang telah di laksanakan adalah penyaluran sekitar 500 paket sembako kepada masyarakat yang membutuhkan sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan warga.

Selain kegiatan sosial, LPD juga memberikan penghargaan kepada sejumlah tokoh masyarakat yang di nilai berjasa dalam mendukung pembangunan dan kemajuan Desa Adat Bedha. Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi mereka dalam menjaga keharmonisan, melestarikan budaya, serta mendorong perkembangan desa secara berkelanjutan.

Melalui seluruh rangkaian kegiatan tersebut, HUT ke-34 LPD Desa Adat Bedha tidak hanya menjadi perayaan tahunan. Tetapi juga menjadi momentum memperkuat persatuan masyarakat, melestarikan budaya Bali, dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal.