Situs Megalitikum Gunung Tangkil – Kawasan Gunung Tangkil dan Perbukitan Batu Ampar di Desa Cikakak, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, mendapat perhatian setelah muncul sejumlah aktivitas yang di khawatirkan mengancam peninggalan bersejarah di wilayah tersebut. Bekas penggalian tanpa izin hingga temuan pakaian dalam di sekitar struktur batu purba menjadi persoalan yang kini di soroti pegiat budaya.

Gunung Tangkil di ketahui menyimpan struktur batuan yang di duga berasal dari tradisi megalitikum. Di kawasan tersebut terdapat susunan batu menyerupai punden berundak, menhir, hingga beberapa temuan arca. Potensi arkeologi itu membuat perlindungan kawasan di nilai semakin penting.

Kekhawatiran muncul setelah masyarakat dan komunitas budaya menemukan beberapa lubang bekas penggalian. Selain itu, kondisi kawasan yang di nilai kurang terawat juga membuka kemungkinan munculnya aktivitas yang dapat mengganggu kelestarian situs.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Dinas Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi berencana melakukan pemeriksaan langsung. Berikut sejumlah fakta mengenai kondisi Gunung Tangkil dan Perbukitan Batu Ampar.

Di Temukan Sejumlah Bekas Penggalian di Batu Ampar

Temuan pertama berkaitan dengan keberadaan beberapa titik bekas penggalian di kawasan Perbukitan Batu Ampar yang berada tidak jauh dari Objek Di duga Cagar Budaya (ODCB) Gunung Tangkil.

Pemangku Paguyuban Padjajaran Anyar, Firman Hidayat, menyebut informasi mengenai aktivitas tersebut awalnya di peroleh dari warga sekitar. Berdasarkan penelusuran di lapangan, di temukan sekitar lima hingga enam titik yang di duga merupakan bekas penggalian.

Aktivitas itu di sebut berlangsung pada malam hari. Dugaan sementara, orang-orang yang melakukan penggalian datang karena ingin mencari benda yang di anggap sebagai harta karun.

Keberadaan lubang tersebut menimbulkan kekhawatiran karena penggalian tanpa kajian arkeologi berpotensi merusak susunan tanah maupun benda bersejarah yang mungkin tersimpan di bawah permukaan.

Aktivitas Penggalian Di Sebut Berlangsung Singkat

Salah seorang warga setempat, Abah Enoh, mengungkapkan bahwa aktivitas tersebut tidak berlangsung lama. Orang-orang yang melakukan penggalian di sebut hanya berada di kawasan itu sekitar satu hari dan tidak bermalam.

Menurut keterangannya, kedalaman lubang di perkirakan mencapai sekitar setengah meter. Setelah kegiatan selesai, beberapa lubang kembali di tutup.

Warga juga mengaku sebelumnya tidak mengetahui adanya cerita mengenai harta karun di kawasan tersebut. Namun, Gunung Tangkil memang di kenal oleh sebagian masyarakat sebagai lokasi yang kerap di datangi untuk berziarah dan di anggap memiliki nilai tertentu dalam kepercayaan lokal.

Pegiat Budaya Khawatir Peninggalan Sejarah Rusak

Aktivitas penggalian tersebut menambah kekhawatiran pegiat budaya terhadap kondisi kawasan Cikakak. Pasalnya, persoalan serupa yang berkaitan dengan penggunaan kawasan bersejarah sebelumnya juga pernah terjadi.

Firman mengingatkan bahwa daerah tersebut sempat menjadi perhatian setelah di temukan puluhan makam yang di duga tidak memiliki dasar sejarah yang jelas. Keberadaan makam-makam semacam itu kemudian mendapat penanganan.

Karena itu, munculnya penggalian baru di anggap perlu segera di antisipasi. Pengawasan di nilai penting agar kawasan yang memiliki potensi arkeologi tidak mengalami perubahan maupun kerusakan akibat kegiatan tanpa izin.

Situs megalitikum Gunung Tangkil Sukabumi

Para peneliti BRIN dan Museum Prabu Siliwangi saat melakukan observasi di Gunung Tangkil.

Pakaian Dalam Di Temukan di Sekitar Struktur Batu

Persoalan lain di temukan ketika komunitas pemerhati budaya melakukan penelusuran ke bagian kawasan yang memiliki batu menhir dan struktur menyerupai punden berundak.

Di salah satu celah pada susunan batu di temukan sejumlah pakaian dalam perempuan. Temuan tersebut membuat pegiat budaya mempertanyakan aktivitas yang berlangsung di kawasan itu.

Firman menjelaskan bahwa kondisi sekitar struktur batu juga terlihat kurang terawat. Keberadaan benda-benda tersebut kemudian menimbulkan dugaan bahwa lokasi pernah di gunakan untuk kegiatan ritual tertentu.

Meski demikian, dugaan mengenai tujuan peletakan pakaian tersebut masih membutuhkan penelusuran lebih lanjut. Bagi pemerhati budaya, persoalan utamanya adalah menjaga agar struktur batu tidak rusak serta memastikan lingkungan situs tetap bersih.

Gunung Tangkil Menyimpan Potensi Arkeologi

Nilai penting Gunung Tangkil tidak hanya di dasarkan pada cerita masyarakat. Kawasan tersebut sebelumnya telah menjadi objek penelitian sejumlah pihak, termasuk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah IX Jawa Barat, dan Yayasan Alfath Sukabumi.

Pamong Budaya Disbudpora Kabupaten Sukabumi, Gerry Mulyawan Hidayat, menerangkan bahwa penelitian terdahulu menemukan struktur batu yang memiliki karakter menyerupai punden berundak. Bentuknya antara lain di bandingkan dengan struktur yang terdapat di Situs Pangguyangan.

Selain susunan batu, kawasan tersebut juga memiliki beberapa temuan berupa arca. Luasnya wilayah Gunung Tangkil membuat penelitian lanjutan di perlukan untuk mengetahui sebaran, usia, fungsi, serta hubungan antartemuan secara lebih akurat.

Struktur Batu Dinilai Perlu Diteliti Lebih Mendalam

Karakter struktur batu Gunung Tangkil turut memunculkan perhatian karena memiliki kemiripan dengan peninggalan tradisi megalitikum di beberapa wilayah Jawa Barat.

Di antaranya adalah Situs Gunung Padang di Kabupaten Cianjur dan Situs Tugu Gede Cengkuk yang juga berada di kawasan Cikakak. Namun, keterkaitan sejarah antara situs-situs tersebut masih membutuhkan pembuktian melalui penelitian arkeologi.

Oleh sebab itu, kajian lanjutan di perlukan sebelum menarik kesimpulan mengenai hubungan Gunung Tangkil dengan perkembangan masyarakat pada masa lalu.

Pemerintah daerah juga tengah mendorong proses terkait status perlindungan kawasan. Hasil pembahasan mengenai Gunung Tangkil di rencanakan di teruskan kepada Balai Pelestarian Kebudayaan wilayah Jawa Barat agar mendapatkan arahan mengenai langkah berikutnya.

Disbudpora Sukabumi Siapkan Pemeriksaan Lapangan

Laporan mengenai kondisi Gunung Tangkil telah diterima Disbudpora Kabupaten Sukabumi. Pemerintah daerah berencana melakukan pengecekan bersama komunitas budaya untuk melihat langsung kondisi kawasan.

Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpora Kabupaten Sukabumi, Edeng Supiyan, mengatakan tindak lanjut akan dilakukan terhadap berbagai temuan di kawasan yang saat ini masuk kategori Objek Diduga Cagar Budaya.

Pemeriksaan lapangan di harapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai bekas penggalian, kondisi struktur batu, serta kebersihan area situs. Selain itu, koordinasi antara pemerintah dan komunitas budaya di perlukan untuk menentukan langkah perlindungan berikutnya.

Upaya menjaga Gunung Tangkil menjadi penting mengingat kawasan tersebut menyimpan potensi untuk memperkaya pengetahuan mengenai perjalanan masyarakat masa lampau di Sukabumi. Penelitian ilmiah, pengawasan, dan keterlibatan masyarakat dapat berjalan beriringan agar peninggalan yang masih tersisa tidak hilang akibat aktivitas yang tidak bertanggung jawab.

Dengan perlindungan yang lebih baik, Gunung Tangkil dan Perbukitan Batu Ampar berpeluang tidak hanya menjadi kawasan peninggalan sejarah, tetapi juga sumber pembelajaran mengenai tradisi serta perkembangan kebudayaan masyarakat di Jawa Barat.