Tradisi Tetek Pantan – merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Dayak yang hingga kini masih terus di jaga keberadaannya, khususnya di wilayah Kalimantan Tengah. Ritual adat ini tidak sekadar menjadi prosesi penyambutan tamu, tetapi juga mengandung nilai spiritual, penghormatan, serta harapan akan keselamatan bagi setiap orang yang memasuki kawasan adat. Seiring perkembangan zaman, Tetek Pantan tetap di pertahankan sebagai identitas budaya yang memperlihatkan kearifan lokal masyarakat Dayak dalam menerima tamu dengan penuh penghormatan.
Di balik prosesi pemotongan batang kayu atau bambu menggunakan mandau. Tersimpan sejarah panjang yang mencerminkan perjalanan masyarakat Dayak dari masa lalu hingga saat ini. Oleh karena itu, Tetek Pantan tidak hanya memiliki fungsi seremonial. Melainkan juga menjadi simbol persatuan, penghormatan terhadap leluhur, dan pelestarian nilai-nilai budaya yang di wariskan secara turun-temurun.
Sejarah Tradisi Tetek Pantan dalam Kehidupan Masyarakat Dayak
Awalnya, Tetek Pantan bukanlah ritual yang di ciptakan khusus untuk menyambut tamu. Berdasarkan berbagai kajian mengenai budaya Dayak, tradisi ini memiliki akar sejarah yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat pada masa ketika peperangan antarsuku masih sering terjadi.
Pada masa tersebut, setiap kelompok suku hidup secara terpisah dan mempertahankan wilayahnya masing-masing. Ketika para pejuang berhasil kembali dari medan pertempuran dengan membawa kemenangan. Masyarakat menyambut mereka melalui prosesi pemotongan pantan sebagai simbol keberhasilan melewati berbagai rintangan.
Pemotongan batang kayu atau bambu tersebut melambangkan berakhirnya perjuangan. Sekaligus menjadi ungkapan rasa syukur atas keselamatan para pejuang yang berhasil kembali ke kampung halaman. Namun, seiring perubahan kondisi sosial, makna ritual ini mengalami perkembangan. Kini, Tetek Pantan lebih di kenal sebagai prosesi adat untuk menyambut tamu kehormatan, pejabat, tokoh masyarakat. Maupun wisatawan yang datang berkunjung ke wilayah Dayak.
Perubahan fungsi tersebut tidak menghilangkan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya. Sebaliknya, tradisi ini justru semakin memperlihatkan semangat masyarakat Dayak dalam menjunjung tinggi sikap terbuka terhadap siapa pun yang datang dengan niat baik.
Makna Filosofis Tetek Pantan
Dalam bahasa Dayak Ngaju, kata tetek berarti memotong, sedangkan pantan merujuk pada batang kayu atau bambu yang di pasang melintang sebagai penghalang jalan. Dengan demikian, Tetek Pantan secara harfiah dapat di artikan sebagai tindakan memotong penghalang.
Bagi masyarakat Dayak Ngaju, pantan bukan sekadar benda fisik. Melainkan lambang dari berbagai hambatan yang mungkin menyertai seseorang, seperti kesialan, mara bahaya, maupun energi negatif. Melalui prosesi pemotongan tersebut, di harapkan seluruh rintangan dapat di singkirkan sehingga tamu dapat memasuki kawasan adat dengan hati yang bersih dan membawa keberuntungan.
Selain itu, ritual ini di percaya memiliki makna spiritual sebagai bentuk penyucian diri. Masyarakat meyakini bahwa perjalanan panjang seseorang dapat membawa pengaruh buruk yang tidak terlihat. Oleh sebab itu, Tetek Pantan menjadi sarana untuk memohon perlindungan kepada Tuhan dan para leluhur agar tamu memperoleh keselamatan selama berada di wilayah adat.
Tradisi ini juga mencerminkan tingginya penghormatan masyarakat Dayak terhadap tamu. Kehadiran kepala adat, tokoh masyarakat, penari tradisional, hingga warga kampung menunjukkan bahwa tamu di perlakukan dengan penuh penghargaan sebagai bagian penting dari hubungan sosial yang harmonis.

Foto: Tradisi Tetek Pantan dalam menyambut tamu di Tanah Dayak.
Tahapan Prosesi Tetek Pantan
Pelaksanaan Tetek Pantan dilakukan melalui beberapa tahapan yang tersusun secara sistematis. Seluruh rangkaian di pimpin oleh Demang atau kepala adat yang bertugas memastikan setiap prosesi berjalan sesuai ketentuan adat.
1. Menginjak Telur di Atas Batu Asah
Tahapan pertama di awali dengan mempersilakan tamu utama menginjak telur ayam kampung yang di letakkan di atas batu asah menggunakan kaki kanan. Dalam filosofi Dayak, telur melambangkan awal kehidupan, sedangkan batu asah menggambarkan keteguhan hati dan kekuatan dalam menjalani kehidupan.
Melalui doa yang di panjatkan oleh pemimpin adat, masyarakat berharap tamu memperoleh keselamatan, ketenangan, serta kemudahan dalam seluruh aktivitas selama berada di wilayah tersebut.
2. Dialog Adat Sebelum Memasuki Kampung
Setelah prosesi pertama selesai, kepala adat melakukan dialog singkat dengan tamu yang datang. Tahapan ini bertujuan untuk mengetahui identitas, asal daerah, jumlah rombongan, hingga maksud kedatangan mereka.
Pertanyaan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari tata cara adat yang menunjukkan penghormatan. Sekaligus memastikan bahwa tamu datang dengan tujuan baik. Setelah seluruh pertanyaan di jawab, prosesi dapat di lanjutkan ke tahap berikutnya.
3. Pemotongan Pantan Menggunakan Mandau
Prosesi paling di kenal dalam Tetek Pantan adalah pemotongan batang pantan menggunakan mandau, senjata tradisional masyarakat Dayak.
Pemotongan dilakukan mengikuti arah tertentu yang masing-masing memiliki makna simbolis. Arah pertama menuju matahari terbenam melambangkan pembuangan kesialan dan segala bentuk marabahaya. Selanjutnya, pemotongan di arahkan ke matahari terbit sebagai simbol harapan akan kehidupan yang penuh keberuntungan, kesehatan, umur panjang, serta rezeki yang terus berkembang.
Tahap berikutnya dilakukan ke arah bawah sebagai perlambang perlindungan dari berbagai ancaman. Sementara itu, pemotongan ke arah atas menjadi doa agar tamu memperoleh kedudukan yang baik, kewibawaan, dan keberhasilan dalam kehidupan.
Setelah seluruh bagian pantan berhasil dipotong, tamu secara resmi di terima sebagai bagian dari penghormatan adat masyarakat Dayak.
Selama prosesi berlangsung, suasana semakin semarak dengan iringan musik tradisional, tarian penyambutan, serta pembacaan doa menggunakan Bahasa Sangiang yang memiliki kedudukan penting dalam berbagai upacara adat Dayak. Di beberapa daerah, ritual juga di sertai penyembelihan hewan sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada leluhur.
Mamapas, Tahap Penyucian Setelah Tetek Pantan
Rangkaian Tetek Pantan belum selesai setelah batang pantan di potong. Prosesi kemudian di lanjutkan dengan ritual Mamapas, yaitu proses penyucian yang menggunakan daun tangkawang papas.
Daun tersebut di percikkan atau di usapkan kepada tamu sebagai simbol pembersihan dari energi negatif maupun pengaruh buruk yang mungkin terbawa selama perjalanan. Selain itu, ritual ini juga menjadi bentuk permohonan agar tamu memperoleh perlindungan, kesehatan, umur panjang, dan keberkahan selama berada di kawasan adat.
Di sejumlah wilayah, kepala adat turut mengoleskan minyak kelapa serta menaburkan bubuk putih sebagai lambang perlindungan dari gangguan roh jahat. Tradisi ini memperlihatkan kuatnya hubungan antara nilai budaya, spiritualitas, dan penghormatan terhadap leluhur dalam kehidupan masyarakat Dayak.
Tetek Pantan Tetap Dilestarikan Sebagai Warisan Budaya
Hingga kini, Tetek Pantan masih menjadi bagian penting dalam berbagai kegiatan adat di Kalimantan Tengah. Ritual ini kerap di gelar untuk menyambut pejabat negara, tamu pemerintahan, tokoh masyarakat, maupun wisatawan yang datang berkunjung ke berbagai wilayah. Seperti Palangka Raya, Kabupaten Kapuas, Kotawaringin Timur, Gunung Mas, dan daerah lain yang di huni masyarakat Dayak Ngaju.
Pelestarian tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Dayak mampu mempertahankan identitas budayanya di tengah perkembangan zaman. Lebih dari sekadar seremoni penyambutan, Tetek Pantan menjadi simbol penghormatan, persaudaraan, doa keselamatan, serta keterbukaan terhadap siapa saja yang datang dengan niat baik.
Melalui nilai-nilai tersebut, Tetek Pantan tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat Dayak. Tetapi juga memperkaya keberagaman budaya Indonesia yang patut di jaga dan di wariskan kepada generasi mendatang.