Wakil Menteri Luar Negeri Iran – saeed khatibzadeh menegaskan bahwa negaranya menolak segala bentuk gencatan senjata sementara dalam konflik yang tengah berlangsung di kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini di sampaikan dalam Forum Diplomasi Antalya pada Jumat (17/4/2026), sekaligus memperjelas sikap Teheran yang menginginkan penyelesaian konflik secara menyeluruh dan permanen.
Menurut Khatibzadeh, pendekatan gencatan senjata jangka pendek tidak akan memberikan solusi nyata, melainkan hanya memperpanjang siklus konflik yang telah berlangsung lama. Ia menekankan bahwa Iran memiliki garis merah yang tidak dapat di negosiasikan, yakni penghentian konflik secara total di seluruh wilayah terdampak, mulai dari Lebanon hingga kawasan Laut Merah.
Iran Dorong Perdamaian Menyeluruh di Kawasan Timur Tengah
Dalam keterangannya kepada media, Khatibzadeh menyampaikan bahwa Iran menginginkan berakhirnya konflik secara permanen, bukan sekadar jeda sementara. Ia menyebut bahwa siklus kekerasan harus di hentikan untuk selamanya demi stabilitas kawasan.
Pernyataan tersebut juga menunjukkan bahwa Iran berupaya memperluas cakupan pembahasan damai, tidak terbatas pada satu wilayah konflik saja. Teheran menilai bahwa setiap upaya gencatan senjata harus bersifat komprehensif dan melibatkan seluruh zona konflik yang saling berkaitan.
Langkah ini sekaligus mencerminkan strategi diplomasi Iran yang ingin menempatkan dirinya sebagai aktor penting dalam penyelesaian konflik regional, dengan pendekatan yang lebih luas dan menyeluruh.
Isu Selat Hormuz dan Tuduhan Terhadap AS serta Israel
Khatibzadeh juga menyinggung pentingnya Selat Hormuz dalam dinamika geopolitik kawasan. Ia menegaskan bahwa wilayah tersebut secara historis berada dalam lingkup perairan Iran, meskipun tetap terbuka untuk jalur pelayaran internasional.
Namun, ia menuduh Amerika Serikat dan Israel sebagai pihak yang memperburuk ketegangan di kawasan tersebut. Menurutnya, tindakan kedua negara itu telah memicu ketidakstabilan yang berdampak luas, termasuk terhadap perdagangan global dan kondisi ekonomi internasional.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi distribusi energi dunia, sehingga setiap gangguan di wilayah tersebut berpotensi memicu dampak ekonomi yang signifikan secara global.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh, mengadakan konferensi pers di Teheran pada 9 Mei 2022. Koordinator Uni Eropa untuk pembicaraan antara Iran dan kekuatan dunia mengenai pemulihan kesepakatan nuklir 2015 akan mengunjungi Teheran minggu ini, kata Kementerian Luar Negeri Iran.
Perundingan Iran-AS Alami Kebuntuan
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat sempat menyepakati gencatan senjata sementara selama dua pekan yang di jadwalkan berakhir pada 22 April 2026. Dalam periode tersebut, kedua negara menggelar perundingan di Islamabad pada 11 April 2026 guna mencari jalan keluar dari konflik.
Namun, upaya diplomasi tersebut tidak membuahkan hasil. Perundingan mengalami kebuntuan setelah Iran menolak sejumlah persyaratan yang di ajukan oleh Washington. Termasuk tuntutan untuk membuka akses penuh Selat Hormuz serta menghentikan program pengayaan uranium.
Meski demikian, kedua pihak di kabarkan tetap membuka peluang untuk melanjutkan dialog dalam waktu dekat. Sebagai bagian dari upaya menjaga jalur di plomasi tetap berjalan.
Sinyal Lanjutan Diplomasi dari Donald Trump
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan indikasi bahwa perundingan lanjutan kemungkinan akan segera di gelar. Dalam wawancaranya dengan media, Trump menyebut bahwa pembicaraan tahap berikutnya berpotensi kembali di laksanakan di Pakistan.
Ia menyarankan agar pihak terkait tetap berada di lokasi karena perkembangan signifikan dapat terjadi dalam waktu dekat. Meski memberikan sinyal positif terhadap kelanjutan dialog, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak akan terlibat langsung dalam proses perundingan tersebut.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan tajam antara kedua negara. Jalur diplomasi masih dianggap sebagai opsi penting untuk meredakan ketegangan.
Pakistan Siap Fasilitasi Perundingan Lanjutan
Seorang pejabat senior pemerintah Pakistan menyatakan bahwa negaranya siap menjadi tuan rumah untuk putaran kedua perundingan antara Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, peluang untuk melanjutkan pembicaraan sangat terbuka. Terutama sebelum masa gencatan senjata sementara berakhir.
Kesiapan Pakistan ini menegaskan peran negara tersebut sebagai mediator dalam konflik internasional. Khususnya dalam menjembatani komunikasi antara dua pihak yang memiliki hubungan tegang.
Dengan semakin dekatnya tenggat waktu gencatan senjata, perhatian dunia kini tertuju pada kemungkinan tercapainya kesepakatan baru yang dapat membawa stabilitas jangka panjang di kawasan Timur Tengah.