Layanan – Pesisir Barat terletak di ujung barat Provinsi Lampung dan langsung berbatasan dengan Samudra Hindia. Wilayah ini memiliki karakter geografis yang panjang, terpencar, dan jauh dari pusat ekonomi. Kondisi tersebut membuat masyarakat sering menghadapi hambatan ketika mengakses layanan kesehatan lanjutan.
Selama bertahun-tahun, warga di daerah ini menempuh perjalanan lebih dari tiga jam untuk mencapai rumah sakit tipe B terdekat. Situasi ini memperlambat penanganan pasien, terutama pada kasus darurat seperti kecelakaan, komplikasi kehamilan, dan penyakit jantung. Masyarakat akhirnya bergantung pada fasilitas kesehatan dasar yang belum mampu menangani kasus kompleks.
Pemerintah daerah dan pusat kemudian menempatkan penguatan layanan kesehatan sebagai prioritas utama. Mereka menargetkan pemerataan fasilitas kesehatan agar masyarakat di wilayah terpencil memperoleh layanan yang setara dengan daerah perkotaan.
Peresmian RSUD KH Muhammad Thohir di Krui
Presiden Prabowo Subianto meresmikan RSUD KH Muhammad Thohir di Krui pada 10 Juni 2025. Pemerintah menempatkan rumah sakit ini sebagai salah satu proyek utama dalam program percepatan layanan kesehatan nasional atau Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).
Pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp152,98 miliar dari APBN 2025 untuk membangun rumah sakit ini. Tim pembangunan menyelesaikan seluruh pekerjaan dalam waktu kurang dari satu tahun sejak peletakan batu pertama pada pertengahan 2025. Pemerintah kemudian menyerahkan fasilitas tersebut untuk mulai melayani masyarakat pada akhir tahun yang sama.
RSUD KH Muhammad Thohir berperan sebagai rumah sakit rujukan utama di wilayah barat Lampung. Pemerintah menaikkan statusnya dari tipe D menjadi tipe C untuk memperluas cakupan layanan medis dan memperkuat kapasitas penanganan pasien.
Peningkatan Kapasitas dan Layanan Medis
Manajemen rumah sakit menaikkan kapasitas tempat tidur dari 59 menjadi 101 unit. Tim medis juga membuka layanan baru yang sebelumnya belum tersedia secara lengkap di wilayah ini. Rumah sakit kini melayani pasien melalui instalasi gawat darurat (IGD), poliklinik rawat jalan, ICU, ICVCU, hemodialisis, serta layanan radiologi dan laboratorium.
Peningkatan layanan ini memperpendek jarak akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan lanjutan. Pasien tidak lagi bergantung penuh pada rumah sakit di luar daerah untuk mendapatkan penanganan spesialis dasar. Rumah sakit juga mulai mempersiapkan pengembangan alat kesehatan modern seperti CT Scan 64 slice, mammografi, dan ventilator pada tahun 2026.
Pada tahun berikutnya, tim pengembangan menargetkan kehadiran cathlab dan echocardiography untuk memperkuat layanan jantung. Pengadaan alat ini akan memperluas kemampuan rumah sakit dalam menangani penyakit katastropik seperti serangan jantung dan stroke.

Presiden Prabowo Subianto menyapa warga dalam kunjungan kerja di RSUD KH Muhammad Thohir Krui, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, Rabu (10/6/2026).
Tantangan Ketersediaan Tenaga Spesialis
Walaupun infrastruktur rumah sakit berkembang pesat, RSUD KH Muhammad Thohir masih menghadapi tantangan serius pada ketersediaan tenaga spesialis. Saat ini rumah sakit hanya memiliki lima dokter spesialis aktif, yaitu spesialis anak, kandungan, bedah, radiologi, dan anestesi.
Rumah sakit belum memiliki spesialis jantung, saraf, patologi, dan urologi yang menjadi syarat penting rumah sakit tipe C. Kondisi ini membuat beberapa layanan lanjutan belum berjalan optimal meskipun fasilitas fisik sudah tersedia.
Secara keseluruhan, rumah sakit di wilayah program PHTC menghadapi kekurangan ratusan dokter spesialis di seluruh Indonesia. Pemerintah mencatat kekurangan besar pada tujuh spesialis dasar serta spesialis untuk layanan kanker, jantung, stroke, dan uronefrologi.
Strategi Pemenuhan SDM Kesehatan
Pemerintah menjalankan beberapa strategi untuk mengisi kekurangan tenaga medis. Kementerian Kesehatan menempatkan dokter melalui jalur ASN, program pendayagunaan dokter spesialis (PGDS), serta penugasan peserta pendidikan dokter spesialis.
Tim penempatan tenaga kesehatan bergerak aktif ke berbagai daerah terpencil, termasuk Pesisir Barat. Namun, sebagian program penugasan hanya berlangsung satu hingga dua tahun sehingga rumah sakit sering mengalami rotasi tenaga spesialis.
Sebagian besar dokter spesialis yang bekerja di rumah sakit daerah juga masih berstatus non-ASN, termasuk tenaga kontrak, BLU, dan peserta pendidikan spesialis. Kondisi ini membuat manajemen rumah sakit harus terus menyesuaikan jadwal layanan dan distribusi tenaga medis.
Penutup: Keseimbangan Infrastruktur dan SDM
Pembangunan RSUD KH Muhammad Thohir menunjukkan kemajuan besar dalam pemerataan layanan kesehatan di daerah terpencil. Pemerintah berhasil menghadirkan fasilitas modern di wilayah yang sebelumnya sulit mengakses layanan rujukan.
Namun, penguatan layanan kesehatan tidak hanya bergantung pada bangunan dan alat medis. Rumah sakit membutuhkan tenaga spesialis yang cukup, stabil, dan berkelanjutan agar semua fasilitas dapat berfungsi maksimal.
Jika pemerintah mampu menyeimbangkan pembangunan infrastruktur dengan distribusi tenaga medis, maka wilayah seperti Pesisir Barat akan mengalami peningkatan signifikan dalam kualitas layanan kesehatan dan keselamatan masyarakat.